Manila, KPonline – Transisi industri otomotif dari kendaraan berbahan bakar fosil menuju kendaraan listrik menjadi ancaman sekaligus tantangan nyata bagi keberlangsungan kerja buruh otomotif. Isu krusial ini menjadi fokus utama dalam Regional Motorcycle Trade Union Network Meeting yang digelar di Savoy Hotel, Manila, Philippines, pada 14-16 September 2026.
Pertemuan strategis ini diselenggarakan oleh IndustriALL Southeast Asia. Forum ini mempertemukan delegasi serikat pekerja dari berbagai negara di kawasan Asia Tenggara yang berasal dari pabrikan otomotif besar seperti Yamaha, Honda, Kawasaki, BMW, hingga perwakilan serikat dari perusahaan-perusahaan rantai pasok (supply chain).
Indonesia diwakili oleh delegasi Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Ardiansyah. Ia merupakan perwakilan pengurus PUK SPAMK FSPMI PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) yang juga aktif sebagai anggota Departemen Pekerja Muda DPP FSPMI.
Rangkaian acara dibuka secara resmi dengan pembacaan “No Excuse” Policy yang menjadi komitmen bersama IndustriALL dalam melawan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi, dilanjutkan dengan Opening Message oleh Ramon A. Certeza, Regional Secretary IndustriALL Southeast Asia.
Memasuki agenda inti, masing-masing negara mempresentasikan potret dan kondisi sektor otomotif roda dua di negaranya. Dari data yang dipaparkan, terlihat jelas adanya pergeseran investasi, perubahan model produksi, hingga potensi pengurangan tenaga kerja akibat otomatisasi dan elektrifikasi.
Menurut Ramon, penguatan jaringan serikat buruh di sektor motorcycle menjadi sangat penting. Tanpa persiapan dan strategi yang matang, buruh akan menjadi kelompok yang paling terdampak dari transisi energi ini.
Diskusi berlangsung dinamis. Setiap delegasi menyampaikan tantangan masing-masing, mulai dari belum adanya jaminan kerja (job security) dalam transisi, minimnya pelibatan serikat dalam dialog perubahan teknologi, hingga belum adanya regulasi pemerintah yang melindungi pekerja dari dampak peralihan ke kendaraan listrik.
Momen menarik terjadi saat Ardiansyah mendapat kesempatan menyampaikan pandangan. Di hadapan peserta forum, ia menekankan pentingnya solidaritas lintas negara.
“Di tengah perubahan teknologi yang begitu cepat dan tantangan berat di sektor otomotif, kita memang berbeda negara dan berbeda bahasa. Namun kita semua bersatu dalam satu bahasa yang sama, yaitu bahasa solidaritas. Kita tidak boleh berjuang sendiri-sendiri,” ujar Ardiansyah yang disambut aplaus peserta.
Ia juga menegaskan komitmen pekerja muda Indonesia untuk terus terlibat aktif dalam jaringan regional guna memperjuangkan transisi yang adil dan berkeadilan atau Just Transition bagi seluruh pekerja otomotif.
Tidak hanya berdiskusi di dalam ruangan, para peserta juga diajak melakukan kunjungan kerja (study visit) ke House of Representatives of the Philippines. Kunjungan ini bertujuan untuk mempelajari secara langsung bagaimana mekanisme, proses, dan dinamika pembuatan regulasi ketenagakerjaan dan industri di parlemen Filipina. Hal ini menjadi bekal penting bagi serikat buruh untuk mendorong advokasi kebijakan di negara masing-masing.
Melalui pertemuan di Manila ini, diharapkan terbangun strategi kolektif dan solidaritas yang lebih kuat antar serikat pekerja otomotif di Asia Tenggara, sehingga perubahan menuju industri hijau tidak mengorbankan hak dan kesejahteraan buruh.