2 Pasien Meninggal di RS Siloam, YPKKI Desak Pemerintah Tutup Pabrik Kalbe Farma

  • Whatsapp
Perusahaan Kalbe Farma di jaga ketat aparat terkait demo oleh karyawannya

Jakarta, KPOnline – Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) meminta Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menutup pabrik PT Kalbe Farma yang memproduksi obat bius Buvanest. Ini menyusul meninggalnya dua orang pasien setelah diinjeksi obat anastesi Buvanest tersebut.

Menurut Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI) Marius Wijayarta, seharusnya BPOM tidak hanya menarik obat anastesi tersebut dari pasar, tapi menutup sementara pabriknya sampai proses penelitian terhadap obat itu selesai.

Bacaan Lainnya

Kata dia, pemerintah juga harus mensosialisasikan kepada publik tentang bahaya obat anastesi Buvanest dan tidak boleh digunakan oleh pihak medis.

Perusahaan Kalbe Farma di jaga ketat aparat terkait demo oleh karyawannya
Perusahaan Kalbe Farma di jaga ketat aparat terkait demo oleh karyawannya

“Kalau Badan POM yang benar, dari pihak industrinya saja sudah menarik maka langsung disegel pabrik injeksinya aja dulu, sampai keputusan lebih lanjut. Jadi, izinnya dicabut, tidak investigasi. Segel, lalu izinnya dicabut dan langsung investigasi menyeluruh dari dalam sampai pos marketingnya gimana. Karena ini sudah ada korban meninggal maka Badan POM wajib membuka kepada masyarakat,” papar Marius.

Marius Wijayarta menambahkan, sesuai aturan undang-undang perlindungan konsumen, keluarga korban juga harus mendapatkan tunjangan ganti rugi sebesar Rp 2 miliar serta pihak yang memproduksi obat tersebut harus dikenai hukuman 2 tahun kurungan penjara.

Sebelumnya, dua orang pasien di Rumah Sakit Siloam Karawaci Tangerang meninggal setelah mendapat obat bius merek Buvanest Spinal. Obat ini diproduksi PT Kalbe Farma yang diduga bukan berisi obat bius, melainkan berisi asam untuk mengurangi pendarahan untuk membuat pendarahan membeku.

sumber : http://www.portalkbr.com/berita/nasional/3386097_4202.html

Pos terkait