“Kamu tak akan menjadi lebih hebat dengan merendahkan orang lain…”

Jakarta, KPonline – “Kamu tak akan menjadi lebih hebat dengan merendahkan orang lain…”

Saya masih mengingat dengan jelas, ketika sore itu seorang kawan mengucapkan kalimat ini. Kami sedang duduk di aspal. Aksi 10 November tengah berlangsung.

Jauh sebelum teman saya mengucapkan ini, sebenarnya, jauh hari sebelumnya saya sudah pernah mendengarnya. Tetapi kalimatnya pada sore itu mempunyai makna yang lain. Barangkali, karena saat diucapkan sesuai dengan konteks.

Dalam obrolan ringan itu, kami sedang membahas perlawanan serikat buruh yang sedang melawan PP 78/2015. Salah satu kritik yang disampaikan adalah aksi-aksi buruh yang sekedar formalitas. Terkesan hanya sebagai karnaval.

Ini pun harus diklarifikasi kembali. Entah tulus menyampaikan kritik atau hanya ingin sekedar merendahkan aksi-aksi yang dilakukan kaum buruh.

Jika hal kedua yang terjadi, saya rasa itu merupakan tuduhan yang biadab sekali. Bukan lagi kritik. Tetapi nyinyir.

Tidak tahukah mereka, setiap kali buruh melakukan aksi, para buruh telah mengorbankan banyak hal: waktu, uang, tenaga, pikiran, dan sebagainya.

Tak jarang mereka direpresif hingga terluka. Ada juga yang berakhir di penjara.

Katakanlah aksi-aksi tersebut hanya karnaval. Pernakah si nyinyir memberi teladan dengan melakukan aksi yang benar-benar militan? Nyaris tidak pernah.

Mengkritik itu boleh. Tetapi jika orang yang melakukan kritik tidak melakukan upaya dan keteladanan yang lebih keras dari mereka yang di kritiknya, jelas itu sikap salah.

Jangan-jangan, mengidap kelainan jiwa.

Semacam rasa cemburu, tidak ingin melihat orang lain menjadi lebih hebat. Senang melihat orang lain susah, susah melihat orang lain senang.

“Di dunia ini berlaku rumus, kamu tidak akan menjadi lebih hebat dengan merendahkan orang lain..,” kata teman saya.

Saya tersenyum mendengarnya. Dengan merendahkan perjuangan yang dilakukan kelompok lain, mereka hendak mengelabuhi para pengikutnya. Bahwa apa yang dilakukannya jauh lebih hebat dan bermakna. Padahal ya senyatanya yang dikerjaan hanyalah membual. Memberikan mimpi-mimpi tentang kesejahteraan.

Katakanlah serikat yang saat ini masih konsisten di jalan perjuangan dengan turun ke jalan menghentikan aksi-aksi mereka, apakah kemudian kondisinya akan menjadi lebih baik? Apakah para buruh akan memberikan dukungan kepada si nyinyir? Belum tentu. Tetapi yang pasti, musuh akan diuntungkan, karena perlawanan bisa dipatahkan.

Kita diajarkan, agar kebencian kita terhadap suatu kaum jangan sampai membuat kita berlaku tidak adil. Nasehat ini berlaku bagi siapa saja. Adillah sejak dalam pikiran. Dukung jika memang baik, dan lakukan kritik jika memang salah.

Jangan sampai seperti orang sedang patah hati. Di mata kira, sang mantan selalu terlihat salah.

Facebook Comments

Kahar S. Cahyono

Wakil Presiden Dewan Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (DPP FSPMI) dan Ketua Departemen Infokom & Media Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI).