Human Interest

Terlalu Sibuk Bekerja, Umur Bertambah, Jodoh Belum Tiba, Harus Bagaimana?

Batam,KPonline – Banyak buruh di kota –kota besar yang sudah berusia kepala tiga sampai sekarang masih memilih untuk tetap hidup sendiri dan belum menikah. Ketika di tanya beragam jawaban akan kita dapatkan, mulai dari masih ingin bebas, belum ketemu jodoh, masih banyak tanggungan, ingin membeli rumah dulu, sibuk bekerja hingga alasan nyaman hidup sendiri.

Harus di akui bahwa kehidupan kota yang cepat dan di tambah pekerjaan yang padat  menyebabkan kebanyakan masyarakat di kota-kota besar saat ini cenderung untuk menunda menikah. Dan urusan pekerjaan kadang jadi kambing hitam dari semua alasan ini.

Dan di Batam faktanya perempuan lebih mendominasi, penundaan dalam usia pernikahan mereka karena sibuk bekerja, parahnya ada juga orang yang merasa takut menikah.

Selain soal karier, mereka biasanya menunda untuk menikah karena kesiapan untuk berkomitmen. Umumnya seorang laki-laki yang memiliki karier baik dan berpendidikan cenderung ragu ketika ingin menikah. Selain itu seringkali mereka juga terlalu menikmati hidup sendiri.

Mereka kadang juga menganggap menikah akan ‘melanggengkan’ penderitaan hidup. Kondisi ini membuat mereka menganggap menikah itu sebagai sesuatu yang menyakitkan. Pada akhirnya, keinginan untuk menikah bakal semakin memudar.

Untuk perempuan, keengganan untuk menikah berjalan seiring bertambahnya usia mereka. Dengan kata lain, usia yang makin matang akan membuat seorang perempuan semakin malas untuk menikah. Perempuan yang usianya sudah melebihi 30 tahun umumnya malas untuk membangun komitmen lewat pernikahan.

Sebenarnya perempuan lebih sering mengajak menikah lebih cepat, tapi ketika usianya sudah lebih dari 30 tahun dan ia tak kunjung mendapatkan pasangan, perempuan cenderung malas menikah.

Di zaman sekarang, orang sangat sibuk bekerja siang malam untuk mengais rezeki yang halal, Terkadang ada yang sampai melupakan kebutuhan hidupnya seperti istirahat atau refreshing untuk sekedar menghilangkan penat.

Suka atau tidak suka, Kita hidup di zaman modern yang serba materialistis. Seakan-akan uang merupakan faktor terpenting dalam hidup. Memang harus diakui bahwa kehidupan kita tetap butuh uang untuk bisa bertahan. Dan oleh sebab itu banyak diantara kita bekerja keras siang malam membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Dan pada kenyataannya, kita hanya cukup makan tiga kali sehari meskipun banyak mempunyai uang. Biarpun kita makan di sebuah resto yang harga makanannya cukup mahal, rasa kenyangnya juga sebanding dengan makanan di sebuah warteg pinggir jalan.

Karenanya bekerja itu bagus dan wajib untuk memenuhi kebutuhan, tapi jangan berlebihan, apalagi sampai mengorbankan waktu yang dikhususkan untuk sendiri. Aktif di organisasi juga sangat bagus, tapi jangan lupa kita juga punya prioritas pribadi yang wajib dipenuhi. Hiburan juga boleh, agar kita tidak bosan. Tapi jangan sampai melalaikan, apalagi sampai melalaikan kita sebagai makhluk Tuhan.

Di sisi lain Jodoh dan Rezeki itu memang sudah di tetapkan, tapi tanpa ikhtiar mereka juga tidak datang begitu saja didepan mata . Kalau kita diam di rumah tanpa melakukan ikhtiar. Bagaimana jodoh akan menemukan kita. Maka carilah dengan memperbanyak silaturahmi dan di nanti dengan kesabaran hati berdoa kepada Sang Ilahi.

Berikanlah waktu untuk ikhtiar memantaskan diri. Perjalanan mencari jodoh memang penuh dilema, terkadang terasa begitu sakit karena sebuah penolakan, ataupun terasa begitu rumit dengan banyaknya ketidakpastian.

Tapi hal tersebut bukan menjadi halangan berarti, karena setiap ada pertanyaan, pasti ada jawaban. Setiap ada ujian, pasti akan ada berkah disetiap jalan yang kita lalui.

Teruslah memantaskan diri dan dibarengi ikhtiar mencari dan menjemput cinta sejati. Dan jangan lupa untuk selalu berdoa agar selalu didekatkan dengan jodoh kita.