Puisi oleh : Dikri
Di gerbang pabrik sebelum pulang pagi,
sepatu safety berbaris, jaket lusuh masih wangi deterjen kemarin.
Anak-anak Gen Z menitip mimpi di loker besi,
di antara kartu absen dan sisa lembur yang tak terbayar tuntas.
Layar ponsel bergetar: “Maaf, efisiensi.”
Satu kata halus untuk PHK.
Teman sebelah mengemas kardus, bukan lagi produk,
tapi foto anak, dan surat pengalaman kerja.
Upah? Cukup untuk hidup, tak pernah untuk hidup tenang.
di sudut kantin, kopi hitam dibagi dua,
seorang bilang, “Kalau kita diam, siapa yang bicara?”
Maka serikat datang bukan dengan toa saja,
tapi dengan daftar nama, dengan pelukan setelah shift tiga.
Solidaritas bukan jargon di jaket lusuh,
ia adalah tangan yang menahan pintu agar tak ada lagi yang dikeluarkan sendirian.
Kami bukan sekadar angka di laporan produksi,
kami adalah detak yang membuat mesin itu berarti.
Jika besok pabrik mengganti kami dengan robot,
pastikan robot itu tahu cara saling menjaga.