“Setelah Tersandung Kasus, Baru Sadar Pentingnya Berserikat”

  • Whatsapp
Muhammad Nur Yasin

Bogor, KPonline – “Kurang lebih ada sekitar 49 juta buruh formal yang terdaftar di Kementrian Tenaga Kerja Republik Indonesia. Dari jumlah buruh formal yang terdaftar, hanya sekitar 2,7 juta buruh yang berserikat. Ini artinya peta kekuatan serikat pekerja hanya sedikit dan masih lemah,” ungkap Muhammad Nur Yassin didepan seluruh peserta Jambore Nasional Pekerja Muda SPAMK-FSPMI yang diadakan di Grand Cempaka Resort, Cipayung, Bogor.

Berbagai macam alasan diutarakan setiap orang, kenapa mereka berserikat atau menjadi anggota serikat.

Bacaan Lainnya

Ada beberapa hal yang menjadi alasan bagi setiap pekerja atau buruh, kenapa buruh berserikat atau menjadi anggota serikat pekerja.

Yang seringkali terjadi adalah karena buruh tersebut sedang mengalami kasus perburuhan atau perselisihan Hubungan Industrial.

“Tersandung kasus dahulu, baru sadar betapa pentingnya berserikat,” lanjut Direktur Organisasi DPP FSPMI ini.

Muhammad Nur Yasin. Foto: Media Perdjoeangan

Pria berkulit sawo matang ini pun memaparkan faktor-faktor yang menjadikan serikat pekerja stagnan atau organisasi serikat pekerja menjadi tidak berjalan.

Faktor-faktor tersebut diantaranya, yang pertama adalah usia pekerja yang dimana semakin bertambah usia pekerja menyebabkan pekerja tersebut semakin malas untuk berserikat.

Faktor yang kedua, pekerja mengharapkan keberhasilan yang instan, apa yang mereka perjuangkan pada hari ini, ingin mendapatkan keberhasilan pada hari ini juga. Hal ini merupakan sebuah keniscayaan, karena perjuangan kaum buruh membutuhkan kesabaran diatas rata-rata.

Yang ketiga, banyak pekerja yanf hanya ingin berserikat tanpa mau membayar iuran serikat pekerja.

Di FSPMI, COS (Check Out of System) yang baik dan besar, merupakan sebuah faktor keberlangsungan organisasi serikat pekerja.

Dan yang terakhir, masih minimnya kesadaran kelas di kalangan buruh, yang mengakibatkan roda pergerakan dan perjuangan kaum buruh tersendat-sendat.

Secara gamblang dan komunikatif, pria yang akrab dipanggil dengan Bung Yassin ini, memaparkan dan juga mendeskripsikan problematika perburuhan dengan jelas.

Problematika yang hingga saat ini masih terus terjadi di serikat pekerja adalah, kepemimpinan yg lemah, partisipasi anggota yang rendah, persaingan antar serikat pekerja, keuangan serikat pekerja yang masih banyak tergantung dari lembaga lain, sumber daya yang tidak berkembang, demokrasi dan integritas anggota setiap anggota dan pengurus serikat pekerja yang lemah, dan dialog sosial yang buruk antar anggota dan antar pengurus serikat pekerja.

Muhammad Nur Yassin juga mengkritisi gagalnya regenerasi kepemimpinan didalam sebuah organisasi serikat pekerja.

Hal ini dikarenakan sikap apatis anggota terhadap pengurus serikat pekerja, informasi perkembangan kebijakan organisasi yang tidak sampai dari pengurus serikat pekerja ke anggota-anggotanya.

Terakhir, tidak berjalannya program pendidikan kepemimpinan, yang berdampak negatif terhadap pergerakan roda organisasi. (RDW)

Pos terkait