Sahabat Buruh dan Sambal Tempe

Semarang, KPonline – Sebut saja namanya Nurweda, buruh muda yang bekerja di sebuah pabrik garment. Hampir setiap harinya Ia habiskan waktu di dalam pabrik. Berangkat gelap pulangpun gelap.

Lembur demi lembur ia jalani, berharap mendapatkan tambahan upah. Ya, upah yang seharusnya diterima memang sangatlah sedikit, UMK Kabupaten Demak yang hanya Rp2.065.490 tak mungkin mencukupi kebutuhannya dan keluarganya.

Sehingga mau tak mau Nurweda harus lembur agar upahnya bertambah. Upah dari lembur memang cukup signifikan, jika gaji pokok yang diterima hanya sebatas UMK, nah bila lembur Nurweda bisa mengumpulkan pundi pundi rupiah hingga empat sampai lima juta rupiah dalam sebulannya.

Namun konsekuensinya pun mahal, Ia harus merelakan seluruh waktunya di dalam pabrik. Boro boro ngapel ke rumah pacar, pulang kerja saja badan sudah amat payah.

Eh tapi… Ironisnya, Nur bahkan tak sempat berpikir untuk mencari pacar. Kasihan kan.

“Mau nyari pacar gimana, wong hampir seluruh hidupku habis di pabrik. Ada tuh teman kerja juga udah pada Emak Emak,” tutur si Nur lirih.

Aku pun tak mau menyerah begitu saja dengan jawaban dia.

“Lhah… Gajimu sebulannya kan bisa sampai 4-5 juta rupiah, tuh duit mau buat apa?,” kataku.

“Boro-boro ngomongin duit, memang sih hasil lemburku bisa dapet 4-5 juta rupiah tiap bulan, tapi tuh habis buat kebutuhan rumah, aku saja tiap bulannya cuma kebagian buat beli baju satu stel sama rokok doang, udah,” jawab si Nur dengan nada agak tinggi.

Ini aneh gumamku, maka dengan izin si Nur, akupun malam itu ikut kerumahnya. Sekitar jam 21.00 wib, kami sampai di rumah Nur. Suasana kampungnya sangat sepi. Ya mungkin karena di kota biasanya jam 21.00 wib masih ramai, kali ini di kampung terasa berbeda.

“Kopi?,” tawar si Nur padaku.

“Iya, sip… Kopi item ya Bro,” ujarku sok akrab.

Lalu sekitar 7 menitan, dua gelas kopi hitam manis telah tersaji di atas meja bundar bekas tempat gulungan kabel, kepulan uap masih terlihat dari bibir gelas, kopi masih terlalu panas.

Nurweda pun membuka obrolan kembali, Ia menceritakan bahwa Ia adalah anak nomor dua dari lima bersaudara. Kakaknya telah menikah dan ikut suaminya. Adiknya persis pun juga sudah menikah dan sudah tak satu rumah dengannya.

Hanya Nur, Emak dan dua adik laki lakinya. Abah si Nur barusaja meninggal sekitar satu setengah bulan yang lalu. Namun jauh sebelum itu, saat Abah masih ada pun, Si Nur lah tulang punggung perekonomian keluarga.

Nah sekarang kita mulai diskusi yang lebih tajam, kemana uang yang 4-5 juta rupiah per bulan itu di belanjakan.

Nur pun memulai cerita, upah yang dia terima yang paling pertama adalah untuk pemenuhan kebutuhan pokok tiap bulan baik beras maupun bumbu bumbu dapur, kadang beli lauk.

Yang kedua adalah untuk biaya sekolah adiknya yang paling bontot yang baru saja masuk STM, selanjutnya untuk membayar listrik dan hutang hutang bulanan, maklum Emak sudah tak mampu lagi bekerja menjadi buruh tani.

Fisik dan usianya telah rapuh dan tak lagi kuat. Tak hanya sampai disitu, adiknya yang satunya lagi pun sudah setahun ini tak lagi bekerja, padahal masih ada tanggungan kredit sepeda motor, mau tak mau Si Nur juga lah yang harus membayar.

Sampai disini aku sudah bisa membayangkan tentang perkataan Nur bahwa tiap kali gajian Ia hanya bisa beli satu stel baju dan rokok. Malam sudah semakin larut, kami pun masuk ke dalam dan tidur.

Esok paginya sekitar jam setengah lima, si Nur sudah bangun. Dia melongok ke dapur, berharap ada sesuatu makanan yang bisa ia gunakan untuk sarapan. Namun setelah clingak clinguk lama tak juga ia temukan makanan.

“Mak, apa gak masak kemarin?,” tanya si Nur dari dapur kepada Emaknya.

Emak menjawab lirih dari bilik tempat tidur :” Enggak. Uang dah habis, Emak gak masak. Tapi itu di lemari ada tempe”.

Aku dari dalam kamar mendengar percakapan itu dan memaklumi karena tanggal tua, buruh dan keluarganya ngirit itu biasa.

Selang 15 menit, si Nur masuk ke kamar dan menawariku sarapan

“Seadanya ya Gan. Tadi di dapur cuma ada Tempe, jadinya ku buat sambal tempe. Yang penting kita sarapan,” ujarnya sambil tersenyum.

Akupun hanya bisa mengiyakan dan membalas senyumnya, meski dalam hati aku malu, merepotkan dia. Tempe yang seharusnya bisa di makan Ia dan adik-adiknya, harus berkurang jatahnya karena aku ikut makan.

Jam 05.15 wib kamipun bersiap, si Nur harus kembali bekerja. Jam 05.45 wib dia harus sudah absen di Pabrik. Kamipun bergegas setelah pamitan sama Emak.

Sampai depan Pabriknya, si Nur bilang,” Besok tanggal 19 Aku ikut aksi, kontak kontakkan ya,”.

Ku jawab :”lhah… Kamu kan udah sering kena SP. Nanti kalau jadi masalah gimana, ntar di PHK loh”.

Eh si Nur menjawab :”Ini kan Aksi Upah, aku sebagai buruh penerima upah. Sudah seharusnya memperjuangkannya, agar tak selamanya aku terkungkung dalam lembur. Soal PHK itu mah satu hal yang setiap buruh pasti akan lalui. Aku lebih baik terPHK karena berjuang, daripada berdiam diri merenungi nasib,” jawabnya diplomatis.

Ya, Nur sering membahas mengenai PP78/2015 yang membatasi kenaikan upah, ia juga mengkritisi Surat Edaran Menaker yang menurutnya menunjukan arogansi Pemerintah saat ini.

Menurut Nurweda, PP78/2015 menghilangkan peran Dewan Pengupahan, yang mana selama ini Dewan Pengupahan telah melakukan survey KHL di pasar. Fungsinya seakan ditiadakan , padahal nilai hasil survey KHL ini adalah harapan buruh agar upah yang diterima bergerak menuju ke pencapaian hidup layak.

Si Nur ternyata sadar betul itu.

“Ah ini pasti gara gara kamu makan sambal tempe. Jadi otakmu bisa berpikir hahaha…,” ledekku padanya.

Dia pun membalas dengan senyum dan melambaikan tangan menuju gerbang pabrik. Sampai di mulut gerbang ia berteriak padaku ,”Inget !!! Tanggal 19 Aku ikut!!!”.

Selamat bekerja Nur. (Afg)