Puisi : Hujan Desember

Disini, ingin kutuliskan cerita pahit ini
Demi upah yang kami ingini
Kami rela meninggalkan anak suami/istri
Sampai berguyur hujan di kantor walikota ini

Wahai para pemangku jabatan
Ingat kami hanya bekerja demi sesuap makan
Dengan upah yang hanya numpang lewat di tangan
Tidak serupa dengan gaji para pemangku jabatan

Miris nasib buruh di jaman sekarang
Yang selalu dapat penindasan
Bagaikan buruh di jaman penjajahan
Yang dapat upah hanya cukup buat makan

Buruh indonesia yang semakin tersudutkan
Para pejabat semakin di kedepankan
Apa ini namanya penjajahan
Di negeri sendiri buruh di perbudakkan

Kami datang dengan hati penuh harapan
Tetapi besi kawat yang jdi lawan kami behadapan
Tidak ada hati nurani bagi kalian
Karena sudah kenyang dengan jabatan

Wahai para wakil rakyat
Tidakkah iba kalian melihat buruh yang semakin melarat
Kalian hanya berpura pura merakyat
Di saat kalian butuh suara rakyat

Matinya hati nurani para pejabat
Disaat buruh datang menggugat
Demi upah layak buruh terancam di pecat
Tapi sang pejabat tetap lah tidak melihat

Kami hanya insan buruh kasar
Tidak seperti gebernur bpk ansar
Meski kami buruh sering di perlakukan dengan kasar
Namun semangat juang kami tidak akan pudar

Wahai para pemangku jabatan
Yang sekarang masih punya kekuasaan
Disaat kamu habis masa jabatan
Maka kamu akan di nistakan

Kami hanya buruh biasa
Memperjuangkan upah dengan penuh asa
Meski itu hanya harapan kami saja
Tapi kami bangga karena kami berjuang demi keluarga

Batam, 5 Desember 2022.

Anggi