Presiden FSPMI Tekankan Loyalitas dan Konsistensi Perempuan dalam Solidarity Camp SPAMK

Presiden FSPMI Tekankan Loyalitas dan Konsistensi Perempuan dalam Solidarity Camp SPAMK

Subang, KPonline – Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Suparno, hadir dalam agenda Solidarity Camp SPAMK FSPMI yang digelar Pimpinan Pusat (PP) SPAMK di Campervan Park Sari Ater, Subang, Jawa Barat, 19–20 Agustus 2026.

Kegiatan yang mengangkat tema “Bersama Kita Kuat” ini menjadi ruang konsolidasi, penguatan karakter, sekaligus pembentukan kader perempuan yang memiliki kapasitas dan loyalitas terhadap organisasi.

Kehadiran Suparno dinilai penting karena tidak sekadar memberikan motivasi, tetapi juga membawa pesan strategis mengenai tantangan gerakan buruh ke depan. Ia menegaskan bahwa perjuangan organisasi tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis (skill), tetapi membutuhkan loyalitas, konsistensi, dan rasa memiliki terhadap organisasi.

Menurut Suparno, kader perempuan harus berani mengambil peran lebih besar dalam struktur organisasi, mulai dari tingkat pimpinan cabang hingga tingkat nasional. Emansipasi perempuan, menurutnya, tidak boleh berhenti sebagai slogan, tetapi harus dibuktikan melalui keterlibatan nyata dalam perjuangan dan pengambilan keputusan organisasi.

Ia juga mengingatkan bahwa tantangan gerakan serikat pekerja semakin kompleks. Di tingkat nasional, FSPMI menghadapi berbagai isu strategis, mulai dari pembahasan Undang-Undang Ketenagakerjaan, revisi aturan alih daya, JHT, pesangon, THR hingga perjuangan mendorong ratifikasi Konvensi ILO 190 terkait kekerasan dan pelecehan di dunia kerja.

Suparno secara terbuka mengkritisi dinamika gerakan serikat pekerja yang tidak hanya menghadapi tekanan dari pengusaha maupun pemerintah, tetapi juga tarik-menarik kepentingan antarkonfederasi dan federasi. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut FSPMI memiliki kader yang mampu menjaga garis perjuangan dan tidak mudah kehilangan idealisme.

“Skill bisa dipelajari, tetapi loyalitas tidak bisa dibentuk secara instan,” menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Suparno. Karena itu, proses kaderisasi, khususnya kader perempuan, harus diawali dengan rasa memiliki dan loyalitas terhadap organisasi. Kemampuan teknis, bahasa asing, maupun kompetensi lainnya dapat terus dikembangkan melalui pendidikan dan pelatihan.

Suparno juga mengingatkan agar kader tidak mudah tergoda oleh kepentingan di luar organisasi. Menurutnya, FSPMI harus mempertahankan karakter sebagai organisasi yang sulit dibeli idealismenya. Jika kader mulai menjadikan posisi organisasi sebagai ruang kompromi pribadi dengan pengusaha maupun kekuasaan, maka kekuatan perjuangan buruh akan kehilangan fondasinya.

Dalam konteks tersebut, Solidarity Camp perempuan SPAMK menjadi momentum penting untuk memastikan kaderisasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Kegiatan harus mampu melahirkan kader perempuan yang tangguh, berintegritas, kompeten, dan konsisten dalam memperjuangkan kepentingan kaum buruh.

Suparno juga mendorong peserta untuk memanfaatkan organisasi sebagai ruang belajar. Ia mencontohkan pengembangan kemampuan bahasa Inggris secara mandiri di tingkat wilayah sebagai bentuk sederhana bagaimana kader dapat saling berbagi pengetahuan dan meningkatkan kapasitas.

Di sisi lain, ia mengingatkan kader agar tidak mudah terseret polemik di media sosial. Menurutnya, energi organisasi harus diarahkan pada kerja nyata, konsolidasi, dan penguatan basis anggota, bukan habis untuk melayani provokasi atau perdebatan yang tidak produktif di ruang digital.

Menariknya, Suparno juga menyampaikan pengalaman pribadinya selama berproses di FSPMI. Ia menegaskan pentingnya istiqomah dan konsistensi dalam perjuangan. Setelah puluhan tahun berada di FSPMI, dari tingkat anggota hingga menjadi Presiden FSPMI, ia menyebut bahwa perjalanan tersebut dibangun melalui proses panjang dan kesetiaan terhadap organisasi.

Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan. Ia tumbuh dari pengalaman, pendidikan, konsistensi, dan keberanian untuk tetap berada dalam barisan perjuangan ketika situasi organisasi menghadapi tekanan.

Melalui Solidarity Camp bertema “Bersama Kita Kuat”, SPAMK FSPMI diharapkan tidak hanya memperkuat solidaritas antarperempuan, tetapi juga memperkokoh basis kaderisasi organisasi.

Sebab, semakin besar tantangan gerakan buruh, semakin besar pula kebutuhan terhadap kader perempuan yang tidak hanya mampu berbicara, tetapi juga berani mengambil tanggung jawab, menjaga idealisme, dan konsisten memperjuangkan kepentingan pekerja. (Budi)