Pengusaha Takut Buruh Indonesia Pindah ke Singapura atau Malaysia Karena Gaji Yang Besar

ilustrasi mea ( THINKSTOCK)

Jakarta,KPOnline – Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang terwujud pada 2016 memberi peluang masuknya tenaga kerja dari Asia Tenggara ke Indonesia. Begitu juga sebaliknya. Tapi, kesempatan yang dapat dinikmati saat MEA ini dikhawatirkan malah menciptakan kerugian bagi Indonesia.

Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Agung Pambudhi, pemberlakukan MEA dikhawatirkan malah membuat sumber daya manusia Indonesia yang memiliki talenta terbaik memilih untuk bekerja di luar negeri. “Kita ketakutan talented people kita akan keluar. Orang-orang yang potensial bisa menyumbangkan ide-ide dan kinerja ke Indonesia malah ke luar, ke Singapura atau Malaysia karena gaji yang besar,” ujar Agung di Jakarta, Rabu (16/12/2015).

Tenaga kerja Indonesia lebih produktif & berkualitas ( foto : antara )
Tenaga kerja Indonesia lebih produktif & berkualitas ( foto : antara )

Apabila pemerintah dan perusahaan di Indonesia tidak mengantisipasi hal ini, akan semakin banyak talenta terbaik Indonesia yang memilih untuk bekerja di luar negeri karena gaji yang lebih menarik. Akhirnya, ini dapat mengganggu pembangunan ekonomi nasional dalam jangka panjang. “Kita harus menawarkan paket yang menarik, tawarkan hal menarik, seperti gaji, tunjangan medis, dan sebagainya. Akan tetapi, secara struktur kita kalah, infrastruktur kita kalah,” ungkap Agung.

Agung menyatakan, biaya bisnis dan ekonomi di Indonesia cenderung lebih mahal. Selain itu, ketersediaan infrastruktur pendukung bisnis di Indonesia pun cenderung mahal bila dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Sehingga, daya saing Indonesia pun lemah. “Upah murah itu jargon politik sekali, padahal kita ini tertinggi kedua setelah Thailand. Energi dan akses lahan juga sulit. Kalau tidak dibereskan ini tidak akan ada satu investasi yang masuk ke Indonesia,” demikian Agung. (http://bisniskeuangankompas.com)

Facebook Comments