Mengabadikan Kisah

  • Whatsapp

Jakarta, KPOnline – Mereka, anak-anak muda ini adalah mahasiswa tingkat akhir dari sebuah kampus di Ciledug. Dengan program studi penyiaran.

Untuk pertamakalinya, di bulan April, salah satu dari mereka mengontak saya.

“Kami akan membuat film dokumenter mengenai kegiatan buruh sebagai tugas akhir kami,” katanya setelah memperkenalkan diri.

Dia tertarik untuk mendokumentasikan apa yang sedang diperjuangkan oleh FSPMI.

Pembuatan film dokumenter, selayaknya tulisan atau foto bercerita, adalah bagian dari nafas hidup saya. Dengan senang hati saya bersedia membantu.

Saya pun menghubungkan dengan bung Barok. Aktivis kondang yang ada di Jakarta.

Kepada bung Barok, saya meminta agar mereka dibantu dalam melakukan liputan langsung ke lapangan. Bertemu dengan kaum buruh yang sedang berjibaku dan berjuang keras untuk merebut kembali hak-haknya yang dirampas.

Bulan April itu, Corona sedang gila-gilanya. Tetapi toh mereka bisa mengambil gambar di tenda perjuangan kawan-kawan FNG.

“Kami dua kali datang ke sana. Karena saat pengambilan gambar yang pertama videonya kurang bagus,” demikian dia bercerita ketika saya menanyakan kapan pengambilan gambar itu dilakukan.

Setidaknya hal ini menjadi satu bukti, bahwa corona bisa meluluhlantakkan perekonomian. Tetapi tidak untuk perjuangan.

Sampai di sini, kami hanya berkomunikasi melalui WhatsApp. Hingga kemudian, di pertengahan Mei, kami bertemu di DPP FSPMI ketika mereka melakukan wawancara dengan Sekjend FSPMI, Riden Hatam Aziz.

Setelah itu, lama tak ada komunikasi. Barulah di penghujung bulan Juli, saat Jakarta hujan, kami kembali bertemu.

Kami nobar film dokumenter hasil garapannya. Di layar laptop. Saya ditemani bung Iwan, kepala suku Media Perdjoeangan.

Judul filmnya menarik. “Memburuh di Tengah Runtuh.” Demikian juga dengan filmnya, tak kalah ciamik. Maklum dibuat anak kuliahan.

Beda cerita kalau saya yang buat. Tempel sana tempel sini. Back sound kemana, gambar kemana.

Pentingnya Dokumentasi

Banyak orang merindukan kenangan.

Karenanya, kita membutuhkan orang-orang yang bekerja untuk mengabadikan kisah. Agar apa yang pernah kita kerjakan bisa dikenang.

Seperti apa wajah imut kita saat balita?

Berbahagialah jika ada foto/video yang mengabadikan penampakan kita di saat belia. Setidaknya kita bisa melihat potret diri di masa lalu.

Pun demikian dengan gerakan. Jika tak didokumentasikan, kita kehilangan banyak hal untuk dijadikan pelajaran dalam melakukan perbaikan ke depan.

Film atau catatan dokumenter bukan untuk pamer. Lebih dari itu, ia adalah cara kita untuk mengabadikan kisah.