Purwakarta, KPonline-Dalam gerakan buruh, ada dua kata yang sering kali dibicarakan: lobby dan aksi.
Sebagian menganggap lobby sebagai jalan kompromi. Sebagian lainnya melihat aksi sebagai satu-satunya cara untuk menunjukkan kekuatan. Padahal, bagi gerakan buruh yang terorganisir, keduanya bukanlah pilihan yang harus dipertentangkan.
Lobby dan aksi adalah dua sisi dari satu perjuangan.
Tanpa lobby, aksi bisa kehilangan arah. Tanpa aksi, lobby bisa kehilangan daya tekan.
Inilah salah satu wajah perjuangan yang selama ini melekat dalam gerakan buruh Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Lobby Bukan Berarti Menyerah
Lobby bukan berarti buruh cawe-cawe dan menyerahkan nasibnya kepada penguasa atau pengusaha.
Lobby adalah ruang untuk memperjuangkan kepentingan buruh melalui dialog, negosiasi, perundingan, komunikasi politik, hingga membangun dukungan dengan berbagai pihak.
Di ruang lobby, argumentasi harus kuat. Data harus tersedia. Regulasi harus dipahami. Dan yang paling penting, orang-orang yang melakukan lobby harus membawa mandat perjuangan.
Karena itu, lobby bukan sekadar bertemu pejabat. Lobby adalah bagian dari strategi.
Ketika persoalan upah, outsourcing, PHK, jaminan sosial, maupun perlindungan pekerja dibawa ke meja perundingan, disitulah kemampuan organisasi diuji. Seberapa kuat argumentasinya, seberapa solid mandatnya, dan seberapa jelas tuntutan yang dibawa.
Namun ada satu persoalan. Lobby tanpa daya tekan berisiko hanya menjadi percakapan.
Disinilah aksi menjadi penting.
Aksi Adalah Bahasa Kekuatan
Demonstrasi, mogok kerja, konsolidasi massa, dan berbagai bentuk aksi kolektif bukan sekadar aktivitas turun ke jalan.
Aksi adalah pesan bahwa persoalan buruh bukan persoalan individu.
Ketika ribuan buruh berdiri bersama, pesan yang disampaikan menjadi jauh lebih kuat: ada kepentingan yang harus didengar dan ada kebijakan yang harus diperjuangkan.
Aksi memberikan tekanan sosial dan politik.
Tetapi aksi juga bukan tujuan akhir.
Gerakan buruh tidak turun ke jalan hanya untuk menghasilkan foto massa memenuhi jalan raya. Aksi harus memiliki tujuan politik dan tujuan perjuangan yang jelas.
Karena itu, setelah aksi, perjuangan sering kali kembali masuk ke ruang lobby.
• Disana tuntutan dibicarakan.
• Disana janji diuji.
• Disana komitmen ditagih.
Dan jika hasilnya tidak sesuai harapan, jalan perjuangan kembali terbuka dengan aksi.
Ketika Lobby dan Aksi Berjalan Bersamaan
Kekuatan gerakan buruh justru muncul ketika lobby dan aksi berjalan dalam satu garis perjuangan.
Di luar gedung, buruh menunjukkan kekuatan massa. Di dalam gedung, perwakilan buruh memperjuangkan substansi tuntutan.
Keduanya saling menguatkan.
Aksi tanpa lobby dapat berubah menjadi tekanan tanpa hasil yang konkret. Sebaliknya, lobby tanpa dukungan massa dapat membuat posisi tawar buruh menjadi lemah.
Maka, jangan melihat lobby dan aksi sebagai dua pilihan yang saling bertentangan.
Keduanya adalah strategi yang saling melengkapi.
Dalam konteks perjuangan FSPMI, organisasi bukan hanya membutuhkan buruh yang berani turun ke jalan. Organisasi juga membutuhkan kader yang mampu bernegosiasi, memahami hukum, membaca situasi politik, mengolah data, membangun komunikasi, dan mengambil keputusan secara tepat.
Sebab perjuangan tidak selalu berlangsung di atas aspal.
• Ada perjuangan di ruang rapat.
• Ada perjuangan di meja perundingan.
• Ada perjuangan di ruang pengadilan.
• Ada perjuangan di parlemen.
• Dan ada pula perjuangan di jalanan.
Semuanya memiliki tempat masing-masing.
Jangan Terjebak pada Dikotomi
Kesalahan terbesar dalam gerakan adalah ketika buruh mulai mempertentangkan keduanya.
Seolah-olah orang yang melakukan lobby bukan pejuang.
Atau sebaliknya, seolah-olah mereka yang turun aksi hanya sedang mencari keributan.
Pandangan seperti itu justru melemahkan gerakan.
Seorang negosiator membutuhkan kekuatan massa di belakangnya. Sebaliknya, massa yang melakukan aksi membutuhkan orang-orang yang mampu menerjemahkan energi perjuangan menjadi hasil dalam bentuk kebijakan, kesepakatan, atau perubahan konkret.
Karena itu, keberhasilan perjuangan tidak semata-mata diukur dari seberapa banyak buruh yang turun ke jalan.
Keberhasilan juga harus dilihat dari apa yang berhasil diperoleh setelah perjuangan itu dilakukan.
• Apakah kebijakan berubah?
• Apakah hak buruh dipenuhi?
• Apakah upah menjadi lebih baik?
• Apakah PHK dapat dicegah?
• Apakah outsourcing dapat dikendalikan?
• Apakah perlindungan pekerja semakin kuat?
Itulah ukuran sesungguhnya.
Perjuangan Tidak Boleh Kehilangan Arah
Gerakan buruh yang kuat bukan gerakan yang setiap hari turun aksi.
Bukan pula gerakan yang setiap hari duduk di ruang lobby.
Gerakan yang kuat adalah gerakan yang tahu kapan harus berdialog dan tahu kapan harus memberikan tekanan.
Ketika pintu dialog terbuka, perjuangkan kepentingan buruh di dalamnya.
Ketika dialog tidak menghasilkan perubahan, organisasi harus mampu menunjukkan kekuatan kolektif.
Ketika kesepakatan tercapai, kawal pelaksanaannya.
Ketika janji dilanggar, kembali bergerak.
Begitulah siklus perjuangan.
Lobby bukan akhir perjuangan. Aksi juga bukan akhir perjuangan.
Keduanya hanyalah alat untuk mencapai tujuan yang lebih besar: menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi kaum buruh dan keluarganya.
Singkatnya, perjuangan buruh bukan tentang siapa yang paling keras berteriak atau siapa yang paling sering duduk di meja perundingan.
Perjuangan adalah tentang seberapa kuat organisasi mempertahankan kepentingan anggotanya.
Sebab bagi buruh, perjuangan tidak pernah benar-benar selesai.
Hari ini mungkin kita duduk di ruang lobby.
Besok mungkin kita berdiri di jalan.
Lusa mungkin kembali ke meja perundingan.
Tetapi satu hal tidak boleh berubah:
kepentingan buruh harus tetap menjadi tujuan utama.
Karena lobby dan aksi bukan dua jalan yang berbeda.
Keduanya adalah dua kaki yang membuat gerakan buruh mampu terus berjalan.



