Lembur Tetaplah Lembur, Bukan Sesuatu yang Bisa Dibayar dengan Libur

Lembur Tetaplah Lembur, Bukan Sesuatu yang Bisa Dibayar dengan Libur

Purwakarta, KPonline-Di dunia kerja, waktu kadang diperlakukan seperti barang receh: bisa ditukar, dipindahkan, bahkan seolah-olah bisa dilupakan. Namun ada satu hal yang mestinya tak perlu dibuat rumit, lembur tetaplah lembur.

Ketika jarum jam telah melewati batas waktu kerja, tetapi tangan masih sibuk mengejar target, layar komputer masih menyala, dan pekerjaan belum boleh ditinggalkan, maka disitulah waktu pekerja sedang dipinjam.

Bacaan Lainnya

Ironisnya, ketika tagihan atas waktu itu datang, muncul kalimat yang terdengar sederhana:

“Nanti diganti libur saja.”

Seolah-olah waktu yang telah habis di malam hari dapat dikembalikan dalam bentuk tidur di hari lain. Seolah tubuh mengenal sistem barter. Bekerja lebih lama hari ini, lalu lunas dengan rebahan esok hari.

Padahal, lembur adalah tambahan beban, tambahan tenaga, tambahan kelelahan, dan tambahan waktu yang diberikan pekerja untuk kepentingan pekerjaan.

Libur pengganti dan upah lembur bukanlah dua kata yang semestinya dicampur begitu saja hingga maknanya menjadi kabur.

Sebab jika setiap tambahan jam kerja cukup dibayar dengan kalimat “nanti libur saja,” maka lama-lama kerja akan berubah menjadi negeri tanpa jam. Jam pulang hanya menjadi angka dekoratif di dinding, sementara waktu pekerja dianggap milik perusahaan selama pekerjaan belum selesai.

Disinilah satir kehidupan kerja menemukan panggungnya.

Ketika pekerja datang tepat waktu, keterlambatan dihitung. Ketika pekerja pulang terlambat, waktunya justru dianggap bisa dinegosiasikan.

Lucu, bukan?

Pekerja diminta menghargai waktu perusahaan, tetapi waktu pekerja kadang diperlakukan seperti kertas bekas. Bisa dilipat, disimpan, lalu digunakan kapan saja.

Padahal prinsipnya jika memang ada pekerjaan yang mengharuskan seseorang bekerja melampaui waktu kerja yang ditentukan, maka konsekuensinya harus ditempatkan sesuai aturan ketenagakerjaan yang berlaku. Bukan sekadar mengganti angka di kalender dengan hari libur, lalu menganggap persoalan selesai.

Sebab manusia bukan mesin yang cukup dimatikan sebentar setelah bekerja lebih lama.

Ada tenaga yang terkuras. Ada waktu bersama keluarga yang hilang. Ada perjalanan pulang yang tertunda. Ada malam yang dipotong pekerjaan. Dan ada tubuh yang pada akhirnya tetap harus membayar semua itu dengan rasa lelah.

Maka, jangan menyebutnya sekadar “tukar hari”.

Kalau seseorang bekerja lebih lama dari waktu kerja yang seharusnya, sebutlah sebagaimana mestinya yaitu lembur.

Sebab mengganti hari libur tidak otomatis menghapus kenyataan bahwa seseorang telah memberikan tambahan waktunya untuk pekerjaan.

Pada akhirnya, dunia kerja mungkin membutuhkan target, produktivitas, dan efisiensi. Tetapi satu hal jangan sampai ikut diefisienkan yakni, hak manusia atas waktu dan tenaga yang telah ia berikan.

Karena lembur tetaplah lembur. Dan waktu, betapapun sering dianggap murah oleh mereka yang tidak menjalaninya, tetap punya harga.

Pos terkait