Turin Italia, KPonline-Perubahan demografi dunia membawa tantangan baru bagi gerakan serikat pekerja. Bertambahnya penduduk lanjut usia, masuknya generasi muda ke pasar kerja, migrasi tenaga kerja, serta meningkatnya pekerjaan informal menuntut organisasi serikat pekerja untuk terus memperkuat strategi perjuangannya.
Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam kegiatan internasional Turning Demographic Change into Decent Work: Regional Workshop on Developing Trade Union Strategies – Asia Pacific and Europe yang diselenggarakan oleh International Training Centre of the International Labour Organization (ITCILO) di Turin, Italia, pada 26–30 Oktober 2026.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) turut ambil bagian dalam forum tersebut dengan mengirimkan dua orang delegasi, yaitu Mimin Ida Nurjanah, Wakil Sekretaris Jenderal KSPI Bidang Hubungan Luar Negeri dari FSPMI serta Dimas Priadi Wardhana, Wakil Sekretaris Jenderal KSPI Bidang Informasi, Komunikasi dan Digital dari FSP FARKES KSPI, .
Kegiatan ini mempertemukan 20 peserta dari 17 negara di kawasan Asia Pasifik dan Eropa. Forum tersebut menjadi ruang untuk bertukar pengalaman, memperluas jaringan internasional, serta membangun strategi bersama dalam menghadapi perubahan dunia kerja.
Perubahan Demografi Menjadi Tantangan Gerakan Buruh
Perubahan komposisi penduduk memiliki dampak langsung terhadap dunia ketenagakerjaan. Pergantian generasi di tempat kerja, kebutuhan keterampilan baru, mobilitas pekerja migran, hingga perlindungan bagi pekerja informal menjadi persoalan yang harus mendapatkan perhatian.
Dalam workshop selama lima hari tersebut, peserta mengikuti berbagai sesi pembelajaran, diskusi kelompok, pertukaran pengalaman antarnegara, serta penyusunan strategi organisasi.
Beberapa isu yang dibahas meliputi hak-hak pekerja migran, inklusi angkatan kerja, perlindungan sosial, pekerjaan layak, serta peran Global Accelerator on Jobs and Social Protection dalam memperkuat kebijakan ketenagakerjaan.
Peserta juga mempelajari pendekatan Demographic Compass, sebuah kerangka untuk memahami perubahan demografi dan menerjemahkannya menjadi prioritas perjuangan serikat pekerja.
Melalui pendekatan tersebut, organisasi serikat pekerja diharapkan mampu membaca perubahan secara lebih baik dan menentukan langkah strategis agar kepentingan pekerja tetap terlindungi.
Membangun Strategi dan Kerja Sama Internasional
Salah satu hal penting dalam kegiatan ini adalah penyusunan Trade Union Roadmap atau peta jalan serikat pekerja. Peta jalan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun organisasi yang lebih adaptif, memperkuat aliansi, serta meningkatkan kapasitas advokasi.
Pertemuan dengan berbagai organisasi serikat pekerja dari kawasan Asia Pasifik dan Eropa juga memberikan kesempatan bagi KSPI untuk mempelajari pengalaman dan strategi perjuangan dari negara lain.
Setiap negara memiliki kondisi ketenagakerjaan yang berbeda. Namun, terdapat kepentingan bersama yang harus terus diperjuangkan, yaitu perlindungan hak pekerja, kepastian kerja, jaminan sosial, kesetaraan, dan pekerjaan yang layak.
KSPI Siapkan Gerakan Buruh Menghadapi Masa Depan
Bagi KSPI, perubahan demografi harus menjadi perhatian dalam menentukan arah perjuangan organisasi ke depan.
Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan ketenagakerjaan, mulai dari upah, status hubungan kerja, perlindungan pekerja informal, jaminan sosial, hingga tantangan yang dihadapi generasi muda ketika memasuki pasar kerja.
Karena itu, serikat pekerja perlu memperkuat kemampuan membaca perubahan dan memastikan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah maupun dunia usaha tetap berpihak pada kepentingan pekerja.
Partisipasi Dimas Priadi Wardhana dan Mimin Ida Nurjanah dalam forum ITCILO ini diharapkan dapat memperkaya perspektif organisasi, sekaligus memperkuat hubungan KSPI dengan gerakan serikat pekerja di tingkat internasional.
Pengalaman dan pembelajaran selama kegiatan tersebut menjadi bekal penting bagi KSPI untuk mengembangkan strategi perjuangan yang lebih responsif terhadap perubahan zaman.
Pada akhirnya, perubahan demografi harus menjadi momentum untuk memperluas kesempatan kerja, memperkuat perlindungan sosial, dan meningkatkan kesejahteraan pekerja.
Serikat pekerja harus hadir dalam setiap perubahan dunia kerja. Sebab, masa depan ketenagakerjaan yang adil dan layak harus dibangun dengan memastikan suara dan kepentingan pekerja tetap menjadi bagian utama dalam setiap pengambilan kebijakan.



