Jakarta, KPonline-Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI) menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) KSBSI di Hotel Asyana Pemuda, Jakarta, selama empat hari (23-26/9/2026).
Namun dibalik rakernas, terselip catatan sejarah bagaimana serikat buruh itu bisa terbentuk sampai saat ini.
Cerita itu berawal pada 21 Desember 1953, di Bah Jambi II, Tanah Jawa, Simalungun, Sumatera Utara, lahir Muchtar Pakpahan, lelaki yang kelak membuat dunia perburuhan Indonesia tidak lagi senyap.
Ia semula menapaki pendidikan kedokteran, tetapi zaman dan kegelisahan sosial membelokkannya ke Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara. Dari sana, hukum bukan sekadar pasal baginya, melainkan pintu untuk mengetuk dinding kekuasaan. Ia kemudian meraih gelar magister dan doktor hukum tata negara dari Universitas Indonesia.
Pada 25 April 1992, Muchtar bersama para buruh mendirikan Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI), yang kemudian dikenal sebagai salah satu tonggak penting gerakan serikat buruh independen di Indonesia. Di masa Orde Baru, ketika ruang berserikat ibarat halaman yang hanya boleh ditulis dengan satu tinta, SBSI datang membawa suara yang berbeda.
Konsekuensinya tidak kecil. Muchtar beberapa kali berhadapan dengan aparat dan menjalani penahanan terkait aktivitas serta kritiknya terhadap pemerintah. Jeruji besi menjadi semacam kantor cabang perjuangan, tempat yang tidak pernah ia cantumkan dalam kartu nama, tetapi berkali-kali ia datangi.
Ia bukan hanya aktivis, tetapi juga pengacara dan akademisi. Perjuangannya bergerak dari jalanan, ruang sidang, kampus, hingga forum ketenagakerjaan internasional. Pada 1999, ia tercatat bergabung dalam Governing Body ILO, memperluas perjuangan buruh dari halaman Indonesia ke panggung dunia.
Pada 21 Maret 2021, Muchtar Pakpahan meninggal dunia di Jakarta dalam usia 67 tahun. Namun kematian seorang aktivis kadang hanya menutup buku biografi, bukan pertanyaan yang pernah ia tinggalkan.
Setelah kepergiannya, kepemimpinan SBSI kemudian diteruskan melalui mekanisme organisasi. Kongres KSBSI pada November 2021 menetapkan Johannes Dartha Pakpahan sebagai ketua umum hingga saat (2026) ini.
Muchtar telah pergi. Tetapi sejarah buruh menyimpan namanya seperti paku di papan pengumuman. Mungkin bisa dicabut, tetapi lubangnya tetap mengingatkan bahwa pernah ada seseorang yang berani mengetuk pintu kekuasaan ketika banyak orang memilih mengetuk meja sendiri.