Kopi Liong Bulan Udahan, Rasanya Sedih Seperti Ditinggal Kekasih

Bogor, KPonline – Membaca sebuah berita di salah satu koran ternama di Bogor, membuat saya dan beberapa orang kawan-kawan buruh yang mengetahui berita tersebut sedih. Pasalnya, salah satu merk kopi “rakyat” Bogor sejak zaman baheula akan tutup untuk selamanya.

Ini bukan salah satu strategi marketing ala Rhenald yang itu lohh. Tapi ini tentang “rasa dalam sebuah perjalanan perjuangan”.

Yuup… Merk kopi tersebut selalu menjadi primadona dalam setiap obrolan dan perjuangan buruh-buruh Bogor. Nggak percaya? Sila tanya buruh-buruh Bogor yang “doyan” ngopi di pinggir jalan setiap ada aksi dan unjuk rasa. Mereka pasti akan menjawab: Kopi Liong Bulan!!

Sejarah Kopi Liong Bulan cukup panjang dan sangat inspiratif untuk disimak. Lahir pada tahun 1945, sekitar kemerdekaan Indonesia di dekat Pasar Anyar Bogor, di belakang bioskop President yang telah mati lebih dari 20 tahun yang lalu. Membuka toko di Jl. Pabaton di sebelah Pasar Anyar, ia setia di sana sampai tutup umur pada 8 November 2017.

Sepuluh hari yang lalu, saya menemukan tulisan di salah satu media online : MULAI HARI INI KOPI LIONG BULAN TUTUP, UDAHAN.

Memilih kopi bagi saya bukan sekadar rasa, tetapi harus ada perjalanan bersama, dan nostalgia. Dan didalam racikan Kopi Liong Bulan-lah saya menemukan sebuah rasa. Rasa yang seringkali menemani dalam setiap aksi buruh-buruh Bogor.

Beberapa minggu ke depan, sepertinya keperkasaan Sang Naga akan sirna dalam setiap aksi buruh-buruh Bogor. Padahal, Kopi Liong Bulan seakan-akan menjadi simbol sebuah perjuangan.

Bayangkan saja, dalam era digital dan globalisasi yang sangat pesat saat ini, Kopi Liong Bulan masih ditunggu dan dirasakan aromanya oleh kalangan bawah. Kalangan Rakyat kecil.

Hal ini cukuplah dimaklumi, dengan Rp. 12.500; kita bisa mendapatkan 1/4 kg Kopi Liong Bulan tanpa campuran gula.

Cukup murah bukan? Dan tentu saja, Kopi Liong Bulan ini merupakan ciri khas Bogor dalam soal kopi. Yang dalam bentuk sachet pun sering di buru oleh buruh-buruh Bogor. Karena ringkas dan mudah dalam penyajian, cukup diseduh dengan air panas didalam wadah gelas maka jadilah sebuah aroma kenikmatan yang tiada tara.

Disajikan dalam gelas plastik dan diminum beramai-ramai, sudah tentu akan lebih terasa rasa kekeluargaan dan kebersamaannya.

Sesak rasanya. Seperti ditinggalkan kekasih pujaan.

Kini Sang Naga telah terbang ke Bulan dan tak kembali lagi. Saya dan kawan-kawan buruh Bogor yang lain harus mencari penggantinya. Sebab, tanpa kopi gelas plastik di atas aspal dan dikelilingi oleh kawan-kawan buruh, rasa-rasanya perjuangan Kaum Buruh Bogor akan hambar dan tanpa aroma.

Rest in Peace The Legend

Kopi Liong Bulan (1945-2017).