Bekasi, KPonline – Bencana kekeringan akibat musim kemarau kini melanda 11 kecamatan dan 39 desa di Kabupaten Bekasi hingga pertengahan Agustus 2026. Dampak kemarau panjang menyebabkan puluhan ribu warga mengalami krisis air bersih yang parah.
Berdasarkan data terkini, kekeringan meluas ke wilayah selatan dan utara Kabupaten Bekasi. Wilayah yang terdampak meliputi : Kecamatan Cibarusah, Bojongmangu, Serang Baru, Cikarang Selatan, Pebayuran, Sukatani, Cabangbungin, Babelan, dan Tarumajaya.
Dihimpun koran perdjoeangan, berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bekasi mencatat lebih dari 28.450 jiwa atau sekitar 9.537 Kepala Keluarga (KK) mengalami dampak langsung krisis air bersih.
Untuk mengatasi hal ini, BPBD bersama Pemkab Bekasi, Perumda Tirta Bhagasasi, dan PMI terus melakukan suplai bantuan air bersih ke tandon-tandon air di posko pengungsian. Hingga saat ini total pasokan logistik air yang dikerahkan telah mencapai 4,6 juta liter.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga, Pemkab Bekasi juga menyalurkan bantuan ke sektor pertanian. Langkah yang dilakukan meliputi:
1. Normalisasi saluran sekunder sungai untuk memperlancar aliran air
2. Pembagian mesin pompa air gratis bagi petani guna meminimalisir risiko gagal panen akibat pasokan air sawah yang menyusut.
Menurut prediksi BMKG, puncak musim kemarau di Jawa Barat masih akan berlangsung hingga September atau Oktober 2026. Kondisi ini berpotensi memperparah krisis air jika tidak ada penanganan serius.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk sangat menghemat penggunaan air bersih sehari-hari dan segera melapor ke pihak desa atau BPBD setempat jika pasokan air di lingkungannya habis total.
BPBD Kabupaten Bekasi memastikan distribusi air bersih akan terus dilakukan secara bergilir ke wilayah-wilayah terdampak hingga musim kemarau berakhir. (Yanto)