Bogor, KPonline-Kepedulian terhadap keluarga besar serikat pekerja, khususnya anak-anak anggota Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang telah meninggal dunia, menjadi pesan penting yang disampaikan Dadan selaku Ketua Yayasan Dua Puluh April (YDPA) dalam sambutannya pada Musyawarah Unit Kerja (MUSNIK) Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Logam dan Pertambangan (SPLP) FSPMI PT Osha Asia di Canisius Camping Ground, Gunung Putri, Kabupaten Bogor. Sabtu, (7/11/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Dadan mengajak seluruh anggota dan jajaran pengurus PUK SPLP FSPMI PT Osha Asia untuk turut mengambil bagian dalam kegiatan sosial YDPA, khususnya dengan menjadi donatur bagi anak-anak asuh yang selama ini mendapatkan perhatian dan pendampingan dari yayasan.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak asuh YDPA merupakan putra-putri dari kawan-kawan seperjuangan di FSPMI yang telah meninggal dunia. Mereka adalah bagian dari keluarga besar serikat pekerja yang ditinggalkan oleh orang tua mereka, tetapi tetap membutuhkan perhatian, dukungan, dan kepedulian dari rekan-rekan seperjuangan.
Menurut Dadan, perjuangan seorang anggota FSPMI tidak hanya meninggalkan cerita tentang perlawanan dan solidaritas di tempat kerja, tetapi juga meninggalkan keluarga yang harus tetap menjalani kehidupan setelah kepergiannya. Karena itu, sudah sepatutnya keluarga besar FSPMI ikut memberikan perhatian kepada anak-anak mereka.
Dadan berharap PUK SPLP FSPMI PT Osha Asia tidak hanya kuat dalam memperjuangkan hak-hak pekerja, tetapi juga memiliki kepedulian sosial terhadap sesama anggota dan keluarga besar organisasi. Salah satu bentuk nyata kepedulian tersebut adalah ikut membantu keberlangsungan pendidikan dan kebutuhan anak-anak asuh YDPA.
Ia juga menyampaikan bahwa menjadi donatur tidak harus dimulai dengan jumlah yang besar. Yang terpenting adalah adanya kemauan untuk berbagi dan komitmen membantu secara berkelanjutan. Jika kepedulian dilakukan bersama-sama, sekecil apa pun bantuan yang diberikan akan memiliki arti besar bagi anak-anak yang membutuhkan.
Lebih lanjut, Dadan mengajak agar solidaritas yang selama ini menjadi kekuatan FSPMI tidak hanya diwujudkan ketika menghadapi persoalan hubungan industrial atau aksi perjuangan di jalanan. Solidaritas juga harus hadir dalam kehidupan sosial, terutama ketika ada keluarga seperjuangan yang membutuhkan uluran tangan.
Baginya, anak-anak tersebut tidak boleh merasa sendirian setelah kehilangan orang tua. Mereka tetap merupakan bagian dari keluarga besar FSPMI yang harus dijaga dan diperhatikan bersama.
Melalui kesempatan Musnik tersebut, Dadan berharap PUK SPLP FSPMI PT Osha Asia dapat ikut bergabung menjadi donatur YDPA sehingga semakin banyak anak asuh yang terbantu. Dukungan dari berbagai PUK diharapkan mampu memperkuat keberlangsungan program sosial yayasan.
Ia menegaskan bahwa menjaga keluarga dari kawan seperjuangan yang telah meninggal dunia merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap pengabdian mereka selama menjadi bagian dari perjuangan serikat pekerja.
Sambutan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa makna solidaritas tidak berhenti ketika seorang kawan sudah tidak lagi bersama kita. Perjuangan dan kebersamaan harus tetap dilanjutkan melalui kepedulian terhadap keluarga yang ditinggalkan.
Karena itu, Dadan berharap ajakan tersebut dapat menjadi awal terbangunnya kerja sama dan kepedulian antara YDPA dengan PUK SPLP FSPMI PT Osha Asia. Dengan semakin banyak pihak yang terlibat, diharapkan masa depan anak-anak asuh dapat terus diperhatikan dan diperjuangkan bersama.
Kawan seperjuangan boleh pergi untuk selamanya, tetapi keluarganya tidak boleh kita lupakan. Solidaritas bukan hanya tentang berjuang bersama, tetapi juga tentang saling menjaga dan menguatkan.
SALAM SOLIDARITAS! SALAM JUANG!