Cianjur, KPonline-Dalam upaya menyelesaikan permasalah hubungan industrial atas dugaan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sepihak terhadap tiga orang anggota Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) FSPMI PT QL Agroofood, Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FSPMI Jawa Barat menginstruksikan jajaran FSPMI se-Jawa Barat untuk menggelar aksi unjuk rasa di Kantor Pemerintahan Kabupaten Cianjur pada Senin, (2/11/2026).
Namun, aksi tersebut akhirnya ditunda setelah dilakukannya koordinasi lebih lanjut antara pimpinan FSPMI, Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans), serta pihak manajemen perusahaan. Penundaan dilakukan lantaran muncul iktikad untuk membuka ruang perundingan guna mencari penyelesaian atas persoalan hubungan industrial tersebut.
Perundingan berlangsung dengan melibatkan Sekretaris DPW FSPMI Jawa Barat, Dede Rahmat, Ketua Konsulat Cabang (KC) FSPMI Cianjur beserta jajaran pengurus Pimpinan Cabang SPAI FSPMI Cianjur, Bupati Cianjur, Disnakertrans, serta pihak manajemen perusahaan.
Usai perundingan, jajaran FSPMI Jabar kemudian menggelar konsolidasi di Kantor Konsulat Cabang FSPMI Cianjur yang juga menjadi sekretariat PUK SPAI FSPMI PT Pou Youen Indonesia.

Dalam konsolidasi tersebut, Ketua DPW FSPMI Jawa Barat, Supriyadi (Piyong), menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran organisasi yang telah menunjukkan kepedulian dan solidaritas terhadap persoalan yang dialami anggota PUK SPAI FSPMI PT. QL Agroofood.
Ia menyebutkan, kehadiran jajaran pengurus, perwakilan Pimpinan Pusat SPAI FSPMI, Pangkorda dan Sekretaris Daerah Garda Metal, anggota Garda Metal se-Jawa Barat, serta perwakilan sejumlah PUK merupakan bukti bahwa solidaritas FSPMI tidak dibatasi oleh wilayah maupun kepentingan kelompok.
Menurut Supriyadi, persoalan yang menimpa tiga anggota PUK PT QL Agroofood bukan hanya menjadi tanggung jawab organisasi di Cianjur, melainkan menjadi persoalan bersama seluruh keluarga besar FSPMI.
“Kalau kita berbicara organisasi, berbicara FSPMI, ketika ada satu kawan atau satu PUK di suatu daerah yang anggotanya mengalami PHK, pasti teman-teman dari daerah lain ikut merasakan. Makanya, ketika kawan-kawan kita di PT QL ada tiga orang yang di-PHK, kita semua harus ikut membantu menyelesaikan,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, persoalan tiga anggota PT QL Agroofood tersebut sebelumnya telah mendapatkan pengawalan dari jajaran DPW FSPMI Jawa Barat, termasuk Sekretaris DPW Dede Rahmat. Namun, karena belum menemukan penyelesaian, FSPMI kemudian berupaya membuka ruang audiensi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait.
Supriyadi mengaku sempat menerima informasi dari pimpinan FSPMI Cianjur mengenai adanya perkembangan positif sehingga aksi yang telah dipersiapkan perlu ditunda.
Meski demikian, ia mengakui antusiasme anggota FSPMI dari berbagai daerah untuk datang ke Cianjur sudah sangat tinggi. Namun, organisasi memilih mengedepankan upaya penyelesaian melalui perundingan.
“Alhamdulillah, hari ini kita diterima dengan baik oleh Bupati Cianjur. Walaupun saya hanya memantau dari luar, berdasarkan informasi dari perwakilan kita yang mengikuti pertemuan, respons Bupati sangat baik,” ungkapnya.
Ia berharap hasil audiensi/perundingan tersebut dapat menjadi jalan keluar bagi tiga pekerja yang diduga mengalami PHK sepihak agar bisa kembali bekerja.
“Mudah-mudahan tiga orang teman kita yang terkena PHK bisa dipekerjakan kembali. Itu harapan kita dari hasil audiensi dengan Bupati,” ujarnya.
Namun, ia menegaskan bahwa penundaan aksi bukan berarti perjuangan telah berakhir. Apabila tidak ada penyelesaian konkret, FSPMI Jawa Barat siap kembali mengonsolidasikan kekuatan dan mendatangi Kabupaten Cianjur untuk melanjutkan perjuangan.
“Kalau tidak dipekerjakan kembali, kita akan berkumpul lagi. Kita datang lagi ke Cianjur. Pokoknya, kalau memang tidak ada penyelesaian, kita tetap akan aksi,” tegas Supriyadi.



