Begitu Mudahnya Kita Melupakan

  • Whatsapp

Serang, KPonline – Mengapa deadline itu penting? Karena itu akan membuatmu terhindar dari rasa galau akibat tidak adanya kepastian akan batas waktu.

Bukankah menunggu itu pekerjaan paling galau? Apalagi jika kita tak tahu pasti kapan penantian itu akan usai: 1 hari, 10 hari, 100 hari, 1.000 hari, atau sampai kehidupan di dunia tidak ada lagi.

Ini tentang seorang buruh yang sedang menjalani proses perselisihan PHK.

Saya tahu persis apa yang mereka rasakan. Karena saya pernah mengalaminya, dulu. Apalagi sekarang, hampir setiap hari melakukan pendampingan terhadap kawan-kawan yang sedang mengalami perselisihan. Penantian yang sedemikian panjang. Lengkap dengan segala cemas dan bimbang.

Saat-saat seperti itu, banyak orang bisa dengan mudah menjadi bijak dengan mengatakan agar tetap sabar. Semangatnya jangan pudar. Tetapi bagi saya, nasehat-nasehat seperti itu sama sekali tidak menarik. Mereka tidak perlu diajarkan bagaimana cara untuk menjadi sabar. Tak perlu digurui bagaimana cara untuk tetap militan dan terus melawan. Buktinya, mereka telah melewati hitungan bulan dan tahun untuk memperjuangkan apa yang mereka sebut sebagai keadilan.

Dan justru akan lebih menarik ketika pertanyaan ini ditujukan kepada diri kita sendiri. Masihkah kita sanggup berempati satu dengan yang lainnya? Mewujudkan makna solidaritas dalam perbuatan nyata. Menjadikan derita mereka juga bagian dari kita?

Sampai disini, saya tak sanggup berkata-kata lagi. Terlalu sering kita mengagung-agungkan mereka yang masih berjuang. Tetapi begitu mudah melupakan mereka yang sudah menjadi “veteran”. Seolah-olah mereka bukan siapa-siapa. Bukan apa-apa.

Lepas dari semua itu, saya tahu, semuanya akan baik-baik saja. Setiap zaman akan memiliki pahlawannya sendiri.

Sebaliknya, para pecundang selalu akan ditinggalkan. Ia tak akan mampu bertahan dalam rentang waktu yang panjang.

Catatan: Foto ini saya ambil dari tangga menuju ruang sidang PHI Serang. Ketika kawan-kawan Sentraco sedang menunggu jadwal sidang. Serang, 3 Desember 2014