Aku Tak Sanggup Menggambar Karikatur Buruh Lagi

  • Whatsapp

Sidoarjo, KPonline – Andaikan digoreskan spidol hitam di atas kertas putih. Inilah gambaran yang akan bisa saya ceritakan mengenai kegundahan kaum buruh tentang kesejahteraanya saat ini. Di saat menjelang akhir tahun tentang harapannya mendapat upah layak. Ia telah kecolongan untuk kesekian kalinya. Tak bisa berbuat banyak mempengaruhi kebijakan pemerintahan.

Celakanya pemerintahan saat ini mungkin telah dibekingi kaum modal. Tentunya pemerintah akan tunduk pada pemilik modal. Sungguh ironis. Setahu saya, anjingpun tak serta merta menuruti semua perintah tuanya. Tapi kali ini sangat berbeda. Perintah tuan modal untuk mengkondisikan kaum buruh hampir semua diamini oleh pemerintah.

Sudah banyak paket – paket kebijakan ekonomi juga tax amnesty yang dinikmati tuan modal.Tetapi bukan tuan modal kalau tidak rakus. Tuan modal inginkan tersedianya pasokan tenaga kerja yang fleksibel. Pemerintah mengamini dengan masih marak dan berserakan buruh – buruh kontrak, outsourcing, harian lepas, borongan, pekerja magang dan tai asu lainya. Tuan modal inginkan pekerja dengan upah murah.

Pemerintah mengamini dengan mengeluarkan PP 78/2015 di poles bak bidadari bagi tuan modal. Bidadari yang sexy semelohai montok dan kemelon. Pada bidadari itu tuan modal bisa mendapatkan kepuasan nafsunya. Mungkin bisa orgasme berkali – kali.

Namun bagi pekerja/buruh bidadari yang di puja tuan modal adalah bak vampir yang haus darah , keringat dan air mata mereka beserta keluarganya. Tetapi tuan modal inginkan bidadarinya hidup abadi. Sekalipun pertentangan dan penolakan ada di mana – mana oleh kaum pekerja buruh. Tuan modal dengan suara dan gerakannya bak siluman berbisik: hai pemerintah…lakukan tugasmu…mereka kaum buruh mengusik bidadariku.

Dengan sigap pemerintah menyiapkan pagar – pagarnya. Dengan pagar kepmen, surat edaran menteri tenaga kerja dan yang terbaru mungkin surat edaran mendagri untuk kepala daerah – kepala daerah. Sampai di sini pekerja/buruh tetap bersuara lantang. Bahwa bidadari genda’annya tuan modal itu menurut pekerja/buruh adalah lahir di tempat yang salah. Menginjak – injak dewi keadilan yang di sebut UU.

Sampai di sini saya tak sanggup menggabar lagi. Terlebih menggambarkan galaunya hati para pekerja /buruh yang paham atas situasi ini. Sementara banyak pekerja/buruh yang lain yang jumlahnya berjuta – juta manusia menganggap situasi ini seperti biasa – biasa saja. Mungkin karena sudah terlalu lama tertindas hingga penindasan di anggap hal biasa. Dan sekali lagi. Sulit sekali menggambar karikatur buruh.

Kehidupan buruh yang sederhana ternyata rumit. Terlalu banyak karakter – karakter yang semakin sulit diejawantahkan oleh spidol hitam di atas kertas putih. Karakter – karakter yang sulit di tangkap oleh mata biasa. Mungkin buruh akan bisa sejahtera dengan cepat bila telah muncul manusia super. Akan tetapi seniman aktivis dari pulau dewata telah membuat statemen: bahwa manusia super telah mati. Ayo…pekerja buruh…tunggu apalagi untuk merubah nasibmu. (*)