Jepara, KPonline – Sebanyak 600 buruh yang berada dibawah naungan Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC FSPMI) Jepara Raya dilaporkan akan mengikuti aksi unjuk rasa di depan kantor DPRD Provinsi Jawa Tengah. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus bertambah sampai besok Jumat (1/5/2026).
“Untuk memperingati May Day hari ini, dari data yang masuk, sebanyak 600 buruh dari puk di Jepara terkonfirmasi akan mengikuti demo di DPRD provinsi Jawa Tengah,” ucap Yopy ketua KC FSPMI Jepara Raya, Kamis (30/4/2026).
Berbeda dengan buruh di Jawa Barat yang mengikuti perayaan May Day di Monas, buruh FSPMI di Jepara dan Jawa Tengah lebih memilih untuk memperingati May Day dengan aksi turun ke jalan.
Berdasarkan penyampaian ketua KC FSPMI Jepara Raya, Yopy Priambudi bahwa aksi turun ke jalan sesuai dengan instruksi Dewan Pimpinan Pusat (DPP) FSPMI dan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) FSPMI Jawa Tengah.
“Seperti yang diinstruksikan oleh DPP FSPMI ke DPW FSPMI Jawa Tengah, buruh Jawa Tengah tetap aksi turun ke jalan serentak bersama buruh KSPI-FSPMI di 38 provinsi di Indonesia,” katanya.
Masa aksi buruh dari Jepara akan mulai bergerak menuju ke kota Semarang pukul 07.00 WIB menggunakan mobil komando dan ratusan sepeda motor dan bis.
Yopy menuturkan 8 isu akan disuarakan dalam aksi memperingati May Day. 8 isu tersebut terdiri atas isu nasional dan isu daerah, yakni perihal pengesahan UU Ketenagakerjaan yang baru, penghapusan outsourcing pah layak dan tolak upah murah (HOSTUM), stop ancaman PHK imbas kondisi global, reformasi pajak, ratifikasi ILO nomor 190, hingga penyelenggaraan pembahasan UMSK Jepara untuk tahun 2027 dan perealisasian Daycare untuk anak buruh di Kabupaten Jepara,
“Sebanyak 8 isu akan kami suarakan ke pemerintah daerah Jawa Tengah. 8 isu terdiri dari isu nasional dan daerah,” kata Yopy.
Lebih lanjut, ia menilai makna May Day adalah momentum yang tepat untuk menyampaikan aspirasi buruh kepada pemerintah. Mengingat kondisi dinamika kebijakan ketenagakerjaan yang berisi ketidakpastian.
“Sekali lagi, MayDay adalah momentum kaum buruh untuk bersuara, menyampaikan harapan, baik kepada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Bertahun-tahun kaum buruh dihadapkan dengan kondisi aturan Ketenagakerjaan yang tidak pasti dan sering tidak berpihak kepada kaum buruh,” tuturnya.
Dalam aksi turun ke jalan, Yopy turut menghimbau seluruh buruh yang mengikuti aksi May Day untuk menghindari tindakan anarkis dan menjaga ketertiban umum.
“Mengenai aksi hari ini, adalah aksi damai tanpa ada tindakan anarkis. Kami pastikan aksi kami tidak akan menggangu ketertiban umum di masyarakat,” pungkasnya.