Subang, KPonline — Vice Presiden FSPMI bidang Pendidikan, Nani Kusmaeni, hadir memberikan motivasi dalam agenda Solidarity Camp Perempuan SPAMK FSPMI yang digelar di Campervan Park Sari Ater, Subang, Jawa Barat, pada 19–20 Agustus 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Nani menyebut bahwa pendidikan organisasi tidak boleh berhenti pada peningkatan kapasitas pengurus saat ini. Lebih jauh, pendidikan harus menjadi instrumen untuk menyiapkan generasi penerus dan estafet kepemimpinan FSPMI.
Menurutnya, keberlangsungan organisasi tidak boleh bergantung pada nama atau figur yang sama dari waktu ke waktu. Karena itu, kaderisasi harus dipersiapkan secara sadar, terstruktur, dan berkelanjutan.

“Jangan hanya Nani lagi, Nani lagi. Harus ada regenerasi. Harus ada estafet kepemimpinan yang terus berjalan,” ujar Nani dalam forum tersebut.
Pernyataan itu menjadi kritik sekaligus pengingat bagi organisasi. Besarnya sebuah organisasi bukan hanya diukur dari kemampuan mempertahankan kepemimpinan hari ini, tetapi dari sejauh mana organisasi mampu melahirkan pemimpin baru yang siap meneruskan perjuangan.
Dalam konteks tersebut, pendidikan organisasi memiliki posisi strategis. Pendidikan bukan sekadar kegiatan pelatihan atau transfer pengetahuan, tetapi menjadi proses membangun karakter, kapasitas, keberanian, loyalitas, serta kemampuan kader dalam menghadapi dinamika perjuangan buruh.
Organisasi pendidikan yang kuat harus mampu mengatur pembagian tugas secara jelas, mengembangkan sumber daya manusia, memaksimalkan proses pembelajaran, sekaligus membentuk karakter kader yang memiliki kompetensi dan integritas.
Karena itu, Solidarity Camp Perempuan SPAMK FSPMI tidak semata-mata menjadi ruang berkumpul dan membangun solidaritas. Agenda tersebut juga menjadi bagian dari proses mempersiapkan kader perempuan agar memiliki kapasitas kepemimpinan dan keberanian mengambil peran lebih besar dalam organisasi.
Pesan Nani menjadi relevan bahwa kaderisasi bukan pekerjaan yang bisa ditunda. Jika organisasi ingin tetap kuat dalam jangka panjang, maka sejak sekarang harus disiapkan siapa yang akan memimpin, siapa yang akan melanjutkan, dan siapa yang akan membawa perjuangan buruh menghadapi tantangan di masa depan.
Estafet kepemimpinan bukan sekadar pergantian nama. Ia adalah ukuran apakah sebuah organisasi benar-benar berhasil membangun generasi penerus. (Budi)