Training Organising KSPI–LO Norwegia: Memperkuat Pengorganisasian, Menjawab Tantangan Gerakan Buruh

Training Organising KSPI–LO Norwegia: Memperkuat Pengorganisasian, Menjawab Tantangan Gerakan Buruh

Tegal, KPonline-Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama LO Norwegia kembali memperkuat kapasitas pengorganisasian serikat pekerja melalui Training Organising yang digelar selama tiga hari, 10–12 Agustus 2026, di kawasan Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Training ini diikuti 25 peserta dari dua federasi serikat pekerja, yakni Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) dan Serikat Pekerja Nasional (SPN). Kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ruang belajar, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kekuatan organisasi buruh yang lebih terstruktur, solid, dan mampu menjawab tantangan ketenagakerjaan yang terus berubah.

Hadir dalam kegiatan tersebut koordinator projek Rusmiatun , didampingi dua tamu dari LO Norwegia, yakni Olav Andersen, Advisor International Department LO, serta Floro R. Francisco, Regional Consultant Asia.

Training organising dibuka oleh koordinator projeck Rusmiatun setelah seluruh peserta menyanyikan Indonesia Raya dan Mars KSPI. Pembukaan tersebut menjadi penanda dimulainya proses pendidikan yang menempatkan pengorganisasian sebagai salah satu fondasi utama kekuatan serikat pekerja.

Dalam sambutannya, Rusmiatun menegaskan agar seluruh peserta tidak menyia-nyiakan kesempatan mengikuti pendidikan selama tiga hari tersebut.

“Training organising selama tiga hari ini jangan disia-siakan. Serap ilmunya, pahami metodenya, kemudian bawa dan praktikkan di organisasi serta di lapangan.”

Pesan tersebut menjadi penting karena pengorganisasian bukan sekadar aktivitas administratif. Dalam gerakan serikat pekerja, organizing merupakan jantung dari pembangunan kekuatan kolektif.

Secara prinsip, organizing merupakan proses mengatur, mengelompokkan, dan membagi tugas serta sumber daya kepada anggota agar setiap orang memahami peran, tanggung jawab, dan kewenangannya untuk mencapai tujuan bersama.

Karena itu, pengorganisasian harus mampu menjawab sejumlah persoalan mendasar: siapa melakukan apa, bagaimana kerja dibangun, siapa bertanggung jawab, bagaimana koordinasi dilakukan, dan bagaimana organisasi memastikan seluruh sumber daya bergerak menuju target yang sama.

Training ini juga membahas sejumlah prinsip dasar organizing, mulai dari pembagian kerja sesuai kemampuan, penguatan koordinasi, optimalisasi sumber daya manusia dan organisasi, hingga pengawasan serta alur kerja yang efektif.

Tahapan organizing dimulai dengan memahami tujuan dan rencana organisasi, mengidentifikasi serta mengelompokkan kegiatan, menentukan tugas dan kewenangan setiap individu, hingga membangun struktur hubungan kerja yang jelas.

Namun bagi gerakan buruh, organizing tidak boleh berhenti pada teori dan struktur organisasi.
Organizing harus mampu mengubah anggota menjadi kekuatan kolektif.

Serikat pekerja yang memiliki struktur tetapi lemah dalam pengorganisasian akan mudah kehilangan daya tawar. Sebaliknya, organisasi yang mampu membangun kesadaran, memperluas keanggotaan, membentuk kader, dan mengonsolidasikan anggota akan memiliki fondasi perjuangan yang lebih kuat.

Di tengah dinamika hubungan industrial, ancaman PHK, outsourcing, lemahnya perlindungan pekerja, serta berbagai persoalan ketenagakerjaan lainnya, kemampuan mengorganisir menjadi semakin strategis.

Karena itu, Training Organising KSPI–LO Norwegia di Guci bukan sekadar agenda pendidikan tiga hari.

Ini adalah investasi organisasi untuk membangun kekuatan buruh dari bawah.

Tiga hari pendidikan harus menghasilkan lebih dari sekadar sertifikat atau pengetahuan baru. Peserta diharapkan mampu membawa pulang metode, pengalaman, dan keberanian untuk melakukan pengorganisasian nyata di basis masing-masing.

Sebab pada akhirnya, kekuatan serikat pekerja tidak hanya ditentukan oleh besarnya struktur di atas kertas, tetapi oleh seberapa kuat organisasi mampu mengorganisir, menyatukan, dan menggerakkan anggotanya dalam perjuangan bersama.