Perjalanan Seorang Buruh yang Pernah Pergi, Kecewa, dan Kembali ke Barisan Perjuangan
Bekasi, KPonline – Perjalanan sebuah organisasi serikat pekerja tidak selamanya berjalan mulus. Ada kalanya perbedaan pendapat melahirkan perpecahan. Ada saatnya kekecewaan membuat seseorang memilih pergi. Namun, waktu terkadang membawa seseorang kembali pada tempat yang pernah ditinggalkannya.
Inilah kisah perjalanan seorang buruh di PUK ASTEMO (KEIHIN). Kisah tentang perbedaan, kekecewaan, keputusan untuk meninggalkan organisasi, hingga akhirnya kembali dan dipercaya mengemban amanah dalam kepengurusan serikat pekerja.
Perjalanan organisasi serikat pekerja di tempat kami mulai terbentuk sekitar tahun 2012. Saat itu, kami masih sama-sama belajar memahami arti berorganisasi, khususnya dalam menjalankan roda perjuangan di bawah naungan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI).
Seiring berjalannya waktu, dinamika organisasi mulai terasa. Perbedaan pendapat, selisih paham, hingga persoalan internal kerap mewarnai perjalanan kepengurusan. Kami menyadari bahwa membangun organisasi bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan kedewasaan, kebersamaan, dan kesediaan untuk saling memahami.
Namun, menjelang pelaksanaan MUSNIK pertama, dinamika tersebut semakin memanas. Perbedaan pandangan mulai membentuk beberapa kelompok. Isu, tuduhan, hingga sikap saling menjatuhkan membuat suasana organisasi semakin tidak kondusif. Masing-masing pihak merasa memiliki pandangan paling benar dalam menentukan arah organisasi.
Di tengah situasi yang semakin rumit itu, saya mulai kehilangan semangat untuk bertahan. Akhirnya, saya mengambil keputusan untuk mundur dari organisasi. Bukan hanya meninggalkan kepengurusan, saya bahkan membuang kartu anggota sebagai bentuk kekecewaan sekaligus penegasan bahwa saya tidak ingin lagi menjadi bagian dari FSPMI.
Sejak 2013 hingga 2021, hampir delapan tahun saya memilih menjauh dari aktivitas organisasi. Saya tidak lagi ingin tahu apa yang terjadi di dalamnya. Baik buruknya perkembangan organisasi bukan lagi menjadi perhatian saya.
Meski demikian, bukan berarti saya sepenuhnya kehilangan kepedulian terhadap lingkungan kerja. Dalam beberapa kesempatan, saya masih terlibat perdebatan dengan anggota maupun pengurus ketika melihat keputusan organisasi yang menurut saya berpotensi mengganggu kelancaran proses produksi. Saat itu, saya memang sudah tidak menjadi bagian dari organisasi, tetapi persoalan di lingkungan kerja terkadang tetap membuat saya angkat bicara.
Tahun 2022 menjadi titik balik dalam perjalanan saya. Di tengah situasi pandemi COVID-19, Ketua Serikat Pekerja di area kerja datang menemui saya. Beliau menyampaikan kondisi organisasi sekaligus mengajak saya untuk kembali bergabung menjadi bagian dari FSPMI.
Saya terdiam sejenak. Napas panjang saya hembuskan. Ada banyak hal yang kembali terlintas dalam pikiran, termasuk pengalaman masa lalu yang pernah membuat saya memutuskan pergi. Saya tahu, kembali ke organisasi bukan sekadar mengisi formulir keanggotaan. Ada tanggung jawab, konsekuensi, dan komitmen yang harus dijalani.
Setelah melalui berbagai pertimbangan, beberapa bulan kemudian saya memberanikan diri meminta formulir pendaftaran. Akhirnya, saya kembali menjadi anggota FSPMI.
Kepulangan itu disambut dengan kegembiraan dan ucapan selamat datang dari kawan-kawan lama. Rasanya seperti kembali pulang ke rumah yang pernah saya tinggalkan. Sekat-sekat yang dahulu memisahkan kami perlahan mencair. Tidak ada lagi ruang untuk memperpanjang perbedaan masa lalu. Kami kembali menjadi satu keluarga, keluarga besar perjuangan buruh.
Hari demi hari berlalu. Saya mulai kembali mengikuti perkembangan organisasi dan berusaha mengambil bagian sesuai kemampuan. Hingga Mei 2024, sebuah momentum penting terjadi. PUK mengambil keputusan untuk merencanakan mogok kerja sebagai bentuk perjuangan menuntut perbaikan kenaikan upah tahun 2024 yang dinilai belum menunjukkan perubahan signifikan dari tahun-tahun sebelumnya.
Saya mengikuti perkembangan situasi dengan serius. Bahkan, saya turut membantu menyosialisasikan instruksi organisasi terkait rencana pelaksanaan mogok kerja tersebut. Ada kegelisahan sekaligus kebanggaan yang saya rasakan. Jika benar-benar terlaksana, mogok kerja itu akan menjadi salah satu catatan penting dalam perjalanan perjuangan buruh di Astemo.
Dua hari sebelum rencana pelaksanaan mogok kerja, pihak SACO memanggil Ketua Serikat Pekerja, Bang Ipul, untuk melakukan perundingan terkait kenaikan upah tahun 2024. Malam itu menjadi salah satu momen yang sulit dilupakan.
Sejak pukul 23.00 hingga 01.00 WIB, saya bersama beberapa pengurus PUK masih berada di luar ruangan. Kami menunggu dengan penuh harap hasil perundingan yang akan menentukan langkah organisasi selanjutnya. Kami sadar, keputusan yang dihasilkan malam itu bukan sekadar persoalan angka kenaikan upah. Ada harapan dan kepentingan banyak anggota yang sedang diperjuangkan.
Akhirnya, perundingan antara kedua belah pihak menghasilkan kesepakatan yang dinilai dapat diterima bersama atau win-win solution. Dengan tercapainya kesepakatan tersebut, rencana mogok kerja resmi dibatalkan pada 19 Mei 2024.
Keesokan harinya, PUK menggelar rapat internal untuk menyampaikan hasil perundingan dan membahas langkah organisasi selanjutnya. Meskipun saat itu saya masih berstatus sebagai anggota biasa dan belum masuk dalam struktur kepengurusan, saya tetap diajak menghadiri rapat tersebut.
Saya hadir bukan karena jabatan. Saya hadir karena merasa memiliki tanggung jawab moral terhadap keberlangsungan organisasi. Dalam hati, ada satu pertanyaan yang selalu saya simpan:
“Jika saya memilih diam dan tidak peduli, lalu siapa yang akan ikut menyuarakan keluhan, keresahan, dan ketidakadilan yang dialami kawan-kawan buruh di perusahaan?”
Pertanyaan itulah yang membuat saya semakin yakin bahwa perjuangan organisasi tidak boleh hanya dibebankan kepada mereka yang memiliki jabatan. Setiap anggota memiliki peran. Setiap suara memiliki arti.
Dalam rapat tersebut, Ketua PUK menyampaikan hasil perundingan dengan pihak SACO beserta kesepakatan yang telah dicapai. Di penghujung penyampaiannya, beliau juga menginformasikan bahwa terdapat satu posisi kepengurusan yang masih kosong setelah pengurus sebelumnya menjalani Pergantian Antar Waktu (PAW).
Kemudian, sebuah usulan disampaikan kepada seluruh pengurus yang hadir.
“Bagaimana kalau Ari menjadi pengganti pengurus PUK yang telah di-PAW?”
Sebuah pertanyaan sederhana, tetapi cukup membuat saya terkejut. Usulan tersebut ternyata mendapat persetujuan dari seluruh pengurus yang hadir. Setelah mempertimbangkan amanah dan tanggung jawab yang akan diemban, saya pun menerima kepercayaan tersebut. Sejak saat itu, saya resmi menjadi bagian dari kepengurusan PUK ASTEMO (KEIHIN) dan terus menjalankan amanah tersebut hingga sekarang.
Sungguh, sebuah perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Dulu, saya pernah meninggalkan organisasi karena kecewa dengan dinamika internal. Saya bahkan pernah membuang kartu anggota dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi terlibat dalam urusan organisasi.
Namun, perjalanan waktu membawa saya kembali. Bukan hanya sebagai anggota biasa, melainkan dipercaya untuk ikut menjalankan roda organisasi dan menjadi bagian dari perjuangan kawan-kawan buruh.
Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa organisasi bukanlah tempat bagi orang-orang yang selalu memiliki pemikiran sama. Perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan kedewasaan, saling menghargai, dan tetap menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Saya juga belajar bahwa meninggalkan organisasi tidak serta-merta menghilangkan kepedulian seseorang terhadap perjuangan. Terkadang, seseorang hanya membutuhkan waktu untuk memahami kembali arti kebersamaan dan tanggung jawab.
Kini, ketika kepercayaan itu telah diberikan, saya berharap dapat menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya. Menjaga kepercayaan kawan-kawan, memperkuat solidaritas, serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan organisasi.
Saya bukan orang yang paling hebat. Saya juga bukan orang yang paling tahu tentang organisasi. Saya hanya seorang buruh yang pernah kecewa, pernah pergi, tetapi akhirnya memilih kembali karena menyadari bahwa perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena perbedaan.
Sebab, serikat pekerja bukan sekadar tempat berkumpul, bukan pula sekadar tempat mencari jabatan. Serikat pekerja adalah rumah perjuangan, tempat kita belajar, mengabdi, saling menguatkan, dan memperjuangkan hak serta kesejahteraan bersama.
Pada akhirnya, perjuangan bukan tentang siapa yang paling depan atau siapa yang memiliki jabatan paling tinggi. Perjuangan adalah tentang siapa yang tetap peduli, siapa yang bersedia berdiri bersama kawan-kawannya, dan siapa yang siap mengambil tanggung jawab ketika organisasi membutuhkan.
SALAM PERJUANGAN!