Perjalanan Seorang Anggota Menjaga Kesetiaan di Barisan FSPMI
Bekasi, KPonline – Sebuah kartu anggota berwarna biru yang mulai memudar tersimpan rapi. Meski tampak lusuh dimakan waktu, kartu itu menyimpan makna mendalam bagi Agung Laksono. Bukan sekadar tanda keanggotaan, melainkan pengingat atas ikrar dan komitmen perjuangan yang dipegangnya sejak bergabung dengan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) pada 2021.
Di tengah dinamika organisasi yang pernah mengguncang tempat kerjanya, Agung memilih tetap bertahan. Meski ia sempat ragu dan sempat mempertimbangkan untuk berpindah federasi ketika sejumlah pengurus Pimpinan Unit Kerja (PUK) sebelumnya mengambil langkah berpisah dan bergabung dengan serikat lain.
Namun, pada akhirnya nurani dan keyakinannya memantapkan langkah untuk terus melangkah bersama FSPMI.
“Awalnya memang sempat terpikir untuk pindah karena pengurus PUK sebelumnya sudah pindah ke federasi lain. Tetapi, saya melihat FSPMI sebagai organisasi besar yang memiliki kekuatan dan perjuangan nyata. Karena itu, saya memilih tetap bertahan di FSPMI,” ungkapnya.
Ada satu hal yang membuatnya terus mengingat alasan bergabung dengan organisasi ini: Kartu Ikrar Anggota FSPMI yang hingga kini masih melekat erat di dompetnya.
Di balik kartu tua itu, tercantum lima poin ikrar yang bukan sekadar rangkaian kalimat formal, melainkan melainkan marwah dan komitmen moral yang menuntun langkah setiap anggota. Lima ikrar tersebut meliputi:
1. Menjadi pekerja yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Menjadi pekerja yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, dan setia kepada organisasi.
3. Menjunjung tinggi keadilan, persaudaraan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
4. Mengutamakan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi dan politik.
5. Berjuang untuk meningkatkan kesejahteraan kaum pekerja beserta keluarganya.
Bagi Agung, lima poin ikrar tersebut adalah roh perjuangan. Didalamnya terkandung nilai kesetiaan, tanggung jawab, solidaritas/persaudaraan tanpa batas, dan semangat perjuangan dan keberanian yang tak boleh luntur oleh situasi apa pun.
“Sejak 2021 saya belajar ban yak tentang arti solidaritas. Ikrar inilah yang menjadi pengingat sekaligus pegangan saya untuk tetap bertahan di tengah berbagai dinamika hubungan industrial di perusahaan,” ujar Agung kepada koran perdjoeangan, Senin (2/11/2026).
Agung merupakan kader dari Serikat Pekerja Elektronik Elektrik (SPEE) FSPMI yang berada di bawah naungan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia. FSPMI sendiri merupakan bagian dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) dan berafiliasi secara internasional dengan IndustriALL Global Union.
Bagi Agung, keputusannya untuk tetap menjadi bagian dari FSPMI merupakan pilihan yang tepat. Baginya, FSPMI bukan hanya organisasi tempat bernaung, tetapi juga wadah perjuangan yang konsisten mengawal kepentingan kaum pekerja.
Hal itu ia lihat dari berbagai perjuangan organisasi, mulai dari pengawalan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), memperjuangkan hak-hak normatif pekerja, hingga memberikan pembelaan terhadap anggota yang menghadapi intimidasi dalam hubungan industrial.
Dinamika dan perbedaan pilihan dalam organisasi, menurutnya, merupakan bagian dari perjalanan perjuangan. Namun, hal tersebut tidak seharusnya menghapus nilai-nilai solidaritas dan semangat kebersamaan.
Empat tahun perjalanan bersama FSPMI telah mengajarkan Agung bahwa menjadi anggota serikat pekerja bukan hanya soal memiliki kartu atau tercatat dalam organisasi. Lebih dari itu, dibutuhkan kesadaran untuk menjaga komitmen dan mengambil bagian dalam perjuangan bersama.
Kini, kartu anggota yang mulai pudar itu tetap menjadi saksi perjalanan dan pengingat atas ikrar yang pernah diucapkan.
“Kartu boleh lama, tetapi semangat perjuangan harus tetap baru.”
Sebuah kalimat sederhana yang menggambarkan keteguhan dari seorang Agung Laksono bahwa kesetiaan dalam perjuangan tidak diukur dari bagusnya fisik kartu anggota, melainkan seberapa kokoh kita memegang komitmen dan tetap berdiri bersama organisasi.