Ngopi Sore PUK Pahala, Diskusi Ringan Tanpa Sekat Wujudkan Anggota FSPMI yang Berdaya

Ngopi Sore PUK Pahala, Diskusi Ringan Tanpa Sekat Wujudkan Anggota FSPMI yang Berdaya

Bekasi, KPonline – Bukan sekadar slogan acara, kegiatan ngopi sore yang di lakukan pada sore hari oleh Pimpinan Unit Kerja Serikat Pekerja Aneka Industri Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (PUK SPAI FSPMI) PT Pahala Bahari Nusantara pada Selasa (3/11/2026), di base camp PUK SPAI FSPMI PT Pahala Bahari Nusantara ini merupakan sebuah kegiatan dengan konsep diskusi santai, cair, dan tanpa sekat, antara pengurus, korlap dan anggota yang hadir.

Dalam acara ngopi sore tersebut PUK mengemasnya dengan diskusi santai dan memberikan tawaran cara pandang baru tentang bagaimana kaum buruh mempelajari hak, posisi, dan kekuatan kolektif mereka dengan cara yang membumi, cair, serta jauh dari kesan kaku seperti di ruang kuliah akademis.

Pengurus dan anggota diajak untuk memahami esensi perjuangan, keadilan sosial, serta kesadaran kelas guna membangun solidaritas di lingkungan serikat pekerja.

M. Suryana selaku bidang pendidikan PUK menyampaikan bahwa salah satu tujuan kegiatan ini adalah untuk mempererat tali silaturahmi antara pengurus dan anggota.

Menurut Suryana kegiatan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi anggota atau karyawan agar tidak hanya terjebak dalam rutinitas pekerjaan dan target produksi, tetapi juga memiliki kesadaran kritis, memahami hak-hak normatif, serta tidak mudah dipecah belah.

Suryana menambahkan bahwa melalui obrolan ringan dan dialog yang setara sambil menikmati secangkir kopi, kegiatan ini diharapkan mampu meruntuhkan sekat-sekat hierarki, mempererat komunikasi di tingkat akar rumput, serta membangun dan merumuskan kekuatan kolektif serikat pekerja.

Secara historis dan sosiologis, gagasan dasar sosialisme yang kerap disalahartikan secara sempit oleh sebagian kalangan sebenarnya berakar pada prinsip-prinsip fundamental, yaitu keadilan sosial, kesetaraan hak, dan solidaritas kolektif. Dalam konteks gerakan buruh modern yang bernaung di bawah FSPMI, pemahaman tersebut bukanlah sekadar doktrin politik yang abstrak, melainkan juga menjadi instrumen perlindungan diri yang rasional bagi kaum buruh.

Di sinilah relevansi pendekatan kultural seperti konsep _”Ngopi Sore”_ menemukan urgensinya. Ruang-ruang formal, seperti rapat pleno atau sosialisasi resmi, terkadang terasa kaku, memiliki jarak hierarkis, dan membuat sebagian anggota merasa canggung untuk menyampaikan pendapat.

Jamiul Shodiq pengurus PUK bidang 4 mengatakan bahwa membangun buruh yang berdaya melalui metode diskusi yang membumi merupakan sebuah kebutuhan strategis. Industri tempat para buruh bekerja memiliki karakteristik operasional yang dinamis serta menuntut ketahanan fisik dan mental yang tinggi.

Menurut Jaimul jika buruh gagal merawat solidaritas, kerentanan terhadap perpecahan dan pelemahan hak-hak normatif akan semakin terbuka lebar. Sebaliknya, dengan memperkuat literasi kritis melalui ruang-ruang dialog yang inklusif, PUK dapat memastikan bahwa setiap anggota tidak hanya menjadi roda penggerak mesin produksi, tetapi juga menjadi subjek yang sadar akan hak, martabat, dan kekuatan kolektifnya.

Karena pada akhirnya, buruh yang berdaya bukan hanya buruh yang kuat dalam bekerja, melainkan juga buruh yang memahami haknya, menyadari posisinya, dan mampu menjaga solidaritas perjuangannya.