Kekuatan Ekonomi: Benteng Kemandirian Ketua Serikat Pekerja

Kekuatan Ekonomi: Benteng Kemandirian Ketua Serikat Pekerja

Morowali, KPonline – Seorang Ketua Serikat Pekerja tidak cukup hanya memiliki keberanian, militansi, dan kemampuan berorasi. Ia juga harus memiliki kemandirian ekonomi. Sebab, perjuangan serikat pekerja tidak hanya menghadapi tekanan, intimidasi, dan perbedaan kepentingan, tetapi juga godaan yang dapat melemahkan keberanian serta menggeser arah perjuangan.

Ketika seorang pemimpin tidak mandiri secara ekonomi, kebutuhan pribadinya dapat menjadi celah bagi pengusaha untuk memengaruhi sikap dan keputusannya. Godaan tidak selalu datang dalam bentuk uang. Bisa berupa fasilitas, jabatan, proyek, kemudahan, atau janji kesejahteraan pribadi yang perlahan-lahan mengikis keberpihakan kepada anggota.

Kekuatan ekonomi bukan berarti seorang Ketua Serikat harus menjadi orang kaya atau memiliki bisnis besar. Kemandirian ekonomi adalah kemampuan memenuhi kebutuhan hidup secara wajar, mengelola keuangan dengan baik, memiliki sumber penghidupan yang tidak bergantung pada kemurahan hati pengusaha, serta berani berkata tidak terhadap tawaran yang bertentangan dengan kepentingan anggota.

Pemimpin yang mandiri secara ekonomi memiliki ruang lebih besar untuk bersikap tegas karena keputusan perjuangannya tidak mudah disandera oleh kebutuhan pribadi.

Namun, kemandirian ekonomi saja tidak cukup. Ia harus berjalan beriringan dengan integritas, ideologi perjuangan kelas, transparansi, dan tanggung jawab kepada anggota. Sebab, orang yang berkecukupan pun bisa tergoda ketika kehilangan prinsip dan menempatkan kepentingan pribadi di atas kepentingan kolektif.

Karena itu, serikat pekerja perlu membangun budaya kemandirian ekonomi di kalangan kader dan pengurusnya. Mengembangkan usaha yang halal dan produktif, meningkatkan keterampilan, memperkuat jaringan ekonomi antaranggota, serta membangun sistem organisasi yang transparan merupakan bagian dari upaya memperkokoh perjuangan.

Kita tidak ingin pemimpin serikat pekerja hidup dalam kesulitan hingga mudah ditekan. Namun, kita juga tidak ingin pemimpin yang hidup berkecukupan justru melupakan mereka yang telah memberinya mandat.

“Kita membutuhkan pemimpin yang kuat secara ideologis, matang dalam berpikir, mandiri secara ekonomi, dan teguh memegang amanah,” kata Rahman pengurus PC SPLP FSPMI Morowali

Pengusaha memiliki kepentingan bisnis yang harus dijaga, sementara serikat pekerja memiliki mandat memperjuangkan kesejahteraan dan martabat pekerja. Dialog dan kerja sama tentu diperlukan. Namun, kerja sama tidak boleh berubah menjadi ketergantungan, dan hubungan baik tidak boleh menghilangkan keberanian untuk mengkritik ketidakadilan.

Jangan sampai meja perundingan menjadi tempat bertukarnya kepentingan anggota dengan kenyamanan pribadi pemimpinnya.

Sebab, jabatan Ketua Serikat Pekerja bukanlah jalan untuk memperkaya diri, melainkan amanah untuk memperjuangkan kehidupan yang lebih baik bagi anggota dan keluarganya.

Bangun kekuatan ekonomi agar perjuangan tidak mudah dibeli. Bangun integritas agar amanah tidak mudah dikhianati. Bangun solidaritas agar tidak ada pemimpin yang berjuang sendirian.

Pada akhirnya, pemimpin serikat pekerja yang sejati bukanlah mereka yang paling dekat dengan pengusaha, melainkan mereka yang mampu duduk berunding dengan pengusaha tanpa kehilangan keberanian untuk berdiri bersama buruh.

“Mandiri ekonominya, teguh ideologinya, jujur amanahnya, dan tetap berpihak pada kelas pekerja!,” pungkasnya