Jangan Hitung UMK dari Meja, Lihat Hidup Buruh di Pasar

Jangan Hitung UMK dari Meja, Lihat Hidup Buruh di Pasar
Foto. Dadan Dokumentasi tim survey pasar FSPMI saat survey pasar di pasar Cikarang

Bekasi, KPonline – Jangan menentukan upah hanya dari balik meja dan deretan angka. Jika ingin mengetahui apakah sebuah upah benar-benar layak, lihatlah kehidupan buruh di pasar: berapa harga beras, lauk-pauk, pakaian, tempat tinggal, biaya kesehatan, pendidikan hingga ongkos transportasi.

Menjelang penetapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) Bekasi tahun 2027, Tim Survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL) KC FSPMI Kabupaten/Kota Bekasi kembali turun langsung ke lapangan.

Rabu (7/10/2026), tim yang terdiri dari Suparman, Supandi dan Hendri melakukan survei harga berbagai kebutuhan pokok di Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi. Mereka mencatat harga, berdialog dengan pedagang, sekaligus mendokumentasikan temuan sebagai data pendukung.

Survei ini bukan sekadar mencatat harga barang. Ada kepentingan yang lebih besar, yakni menghadirkan data faktual mengenai biaya hidup pekerja sebagai bahan perjuangan dan argumentasi FSPMI dalam pembahasan UMK Bekasi 2027.

Data lapangan diperlukan untuk menguji apakah komponen kebutuhan hidup yang menjadi dasar pembahasan pengupahan masih sesuai dengan kenyataan yang dihadapi pekerja.

Sebab, buruh tidak membeli beras dengan persentase. Tidak membayar kontrakan dengan rumus. Tidak membeli obat dengan angka pertumbuhan ekonomi. Semua kebutuhan itu dibayar dengan uang yang diperoleh dari hasil kerja.

Karena itu, survei mencakup berbagai kebutuhan pekerja, mulai dari makanan dan minuman, sandang, perumahan, kesehatan, pendidikan, transportasi hingga kebutuhan lainnya.

Hasil survei nantinya menjadi data pembanding sekaligus bahan advokasi serikat pekerja dalam memperjuangkan kebijakan pengupahan yang mampu menjaga daya beli dan memenuhi kebutuhan hidup layak.

Jangan sampai angka UMK terlihat meningkat di atas kertas, tetapi ketika dibawa ke pasar, daya beli buruh justru semakin tertekan.

Pada akhirnya, tujuan survei KHL bukan sekadar mengetahui berapa harga barang hari ini. Lebih dari itu, survei menjadi cara untuk memastikan bahwa pembahasan UMK 2027 tidak terlepas dari realitas kehidupan pekerja yang sebenarnya.

Karena UMK bukan sekadar angka hasil perhitungan. Di balik angka itu ada kehidupan pekerja dan keluarganya.

“Jika ingin menentukan upah yang layak, jangan hanya menghitung dari meja. Lihat dan ukur pula kehidupan buruh di pasar.”