Isu Usang Guru Honorer

  • Whatsapp

Jakarta,KPonline – Di tengah hiruk-pikuknya PPDB zonasi, ternyata kesejahteraan guru honorer masih menjadi isu usang yang hingga kini masih saja membayangi dunia pendidikan Tanah Air. Adalah Nining Suryati (44) yang membuat masyarakat terhenyak. Guru honorer ini mengajar di SDN Karyabuana 3, Kecamatan Cigeulis, Pandeglang, Banten.

Sejak dua tahun terakhir, Nining yang sudah mengabdi selama 15 tahun itu terpaksa tinggal di toilet sekolah. Kondisi tersebut ia lakoni lantaran tak mampu membangun atau mengontrak rumah. Honor mengajar yang hanya Rp 350 ribu per bulan ditambah penghasilan dari berjualan jajanan di sekolah masih tak cukup menambal biaya untuk mengusahakan sebuah rumah tinggal. Apalagi sang suami hanya bekerja sebagai buruh serabutan dengan pendapatan tak menentu.

Muat Lebih

Memang Nining tak benar-benar tinggal di dalam toilet sekolah. Ia dan keluarganya tepatnya tinggal seatap dengan toilet sekolah dengan sekat seadanya. Kendati demikian kondisi tersebut tak mengurangi keprihatinan kita.

Maka bantuan pun mengalir deras untuk Nining sekeluarga. Kabar terakhir, Bupati Pandeglang Irna Narulita menjanjikan pembangunan rumah untuk keluarga Nining dalam waktu tujuh hari.

Ketua Umum Pengurus Besar PGRI dan juga sekaligus Ketua Majelis Nasional KSPI, Didi Suprijadi mengatakan seharusnya negara hadir dalam menyelesaikan permasalahan guru honorer dan tenaga honorer. Karena selama ini upah yang mereka terima sangat jauh dari kata layak.

“Bayangkan saja, upah yang mereka terima selama sebulan bekerja hanya sebesar 300 ribuan. Apakah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup dalam sebulan?” Ungkapnya

“ Ada 1,2 juta orang guru honorer dan tenaga honorer yang ada di Indonesia. Bahkan, ada sekitar 300 ribuan tenaga honorer yang saat ini bekerja di instansi-instansi pemerintahan. Dan status mereka hingga kini belum juga jelas. Seharusnya Pemerintah bertanggung jawab penuh terhadap nasib mereka semua”

“Untuk guru honorer dan tenaga honorer, setiap bulannya hanya mendapatkan gaji sebesar 300 ribu hingga 500 ribu perbulan. Itupun kadang-kadang dibayarkan 3 bulan sekali. Hal tersebut sangat berbanding terbalik dengan tugas dan kewajiban mereka sebagai guru dan tenaga honorer”.

Di luar sana sangat mungkin masih banyak Nining-Nining lain yang diberi tugas mencerdaskan anak bangsa namun harus hidup dengan mengencangkan ikat pinggang. Para guru honorer harus bertahan hidup dengan penghasilan ala kadarnya.

Pos terkait