Wonogiri, KPonline – Geopark Gunung Sewu bersiap menghadapi evaluasi pra-revalidasi status UNESCO Global Geopark (UGG) yang dijadwalkan berlangsung pada 24–27 Oktober 2026. Evaluasi ini menjadi momentum penting untuk menilai keberlanjutan pengelolaan kawasan, mulai dari pelestarian warisan geologi hingga upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.
Tim ahli geopark dijadwalkan melakukan evaluasi terhadap kawasan yang membentang di tiga wilayah, yakni Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah; Kabupaten Pacitan, Jawa Timur; dan Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Wonogiri, evaluasi empat tahunan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kelestarian bentang alam dan warisan geologi, tetapi juga menilai bagaimana keberadaan geopark memberikan manfaat bagi masyarakat.
Pengelolaan Geopark Gunung Sewu mengusung filosofi “Memuliakan Warisan Bumi, Mensejahterakan Masyarakat”. Filosofi ini menegaskan bahwa pelestarian kekayaan alam perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan warga yang hidup di kawasan tersebut.
Geopark Gunung Sewu memperoleh pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark pada 19 September 2015 di Tottori, Jepang. Kawasan ini memiliki keunikan karena membentang lintas kabupaten dan lintas provinsi, dengan total 33 situs warisan yang terdiri atas 30 geosite dan tiga situs nongeologi.
Secara geografis, kawasan Gunung Sewu terbagi menjadi tiga geoarea, yakni Geoarea Barat di Kabupaten Gunungkidul dengan 13 situs, Geoarea Tengah di Kabupaten Wonogiri dengan tujuh situs, serta Geoarea Timur di Kabupaten Pacitan dengan 13 situs.
Geoarea Barat di Gunungkidul menyimpan beragam fenomena geologi dan bentang alam karst yang menjadi daya tarik kawasan. Sejumlah situs penting di wilayah ini antara lain Gunung Api Purba Nglanggeran, Lembah Kering Purba Sadeng, serta sistem perguaan Gua Pindul, Luweng Jomblang, dan Kalisuci.
Sementara itu, Geoarea Tengah di Wonogiri memiliki karakteristik berupa tata air bawah tanah dan jaringan gua karst. Kawasan ini mencakup sejumlah situs, di antaranya Hulu Lembah Kering Giritontro, Gua Sodong, Gua Tembus, Luweng Sapen, Gua Mrico, Gua Potro-Bunder, serta Pantai Sembukan.
Gua Sodong menjadi salah satu situs yang menarik perhatian karena memiliki aliran sungai bawah tanah sepanjang sekitar dua kilometer. Fenomena tersebut memperlihatkan kekayaan sistem hidrologi karst yang menjadi bagian penting dari warisan geologi Gunung Sewu.
Keberagaman situs di ketiga geoarea menunjukkan bahwa Geopark Gunung Sewu bukan sekadar kawasan dengan bentang alam yang unik, melainkan juga ruang untuk pendidikan, penelitian, konservasi, dan pengembangan potensi masyarakat.
Evaluasi pra-revalidasi yang akan berlangsung pada 24–27 Oktober 2026 menjadi bagian penting dalam perjalanan Geopark Gunung Sewu untuk mempertahankan pengakuan internasionalnya.
Namun, upaya menjaga status UNESCO Global Geopark juga perlu diiringi dengan pengelolaan yang berkelanjutan. Pelestarian lingkungan, pengembangan potensi wisata, edukasi geologi, serta keterlibatan masyarakat menjadi aspek penting agar manfaat geopark dapat dirasakan secara nyata.
Dengan demikian, keberhasilan pengelolaan Geopark Gunung Sewu tidak hanya tercermin dari terjaganya warisan bumi, tetapi juga dari kemampuannya membuka peluang ekonomi, memperkuat partisipasi warga, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tiga wilayah yang menjadi bagian dari kawasan tersebut. (Yanto)