Dulu Satu Pesan Ribuan Datang Kini Ratusan Notifikasi Nol Tindakan, Mengapa Keadilan Tak Pernah Lahir dari Kata Manis Sinergi

Dulu Satu Pesan Ribuan Datang Kini Ratusan Notifikasi Nol Tindakan, Mengapa Keadilan Tak Pernah Lahir dari Kata Manis Sinergi

Purwakarta, KPonline-Ada masa ketika rasa kebersamaan kita begitu kuat dan terasa nyata. Dulu, cukup dengan satu pesan siaran singkat, orang-orang langsung berbondong-bondong datang untuk berkumpul dan menunjukkan rasa solidaritas. Tanpa perlu banyak perdebatan, kawan-kawan rela meluangkan waktu dan tenaga untuk hadir membela rekan yang sedang tertimpa masalah.

Namun sekarang, keadaannya sudah jauh berbeda. Layar ponsel kita berbunyi tiada henti oleh ribuan pesan, perdebatan panjang, dan gambar ajakan aksi di grup WhatsApp. Sayangnya, keriuhan di ruang obrolan itu sering kali berhenti sampai disitu saja.

Bacaan Lainnya

Ratusan pesan yang masuk setiap hari tidak lagi menggerakkan langkah kaki, melainkan hanya menjadi tumpukan notifikasi yang dibiarkan lewat, diabaikan, atau bahkan dimatikan suaranya selamanya.

Keadaan ini menjadi cermin sekaligus pengingat atas apa yang pernah ditegaskan oleh Hendra Mulyadi salah seorang pengurus Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Aneka Industri (SPAI) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Indofood CBp, bahwa propaganda hanyalah alat seperlunya saja.

Segala pesan berantai, gambar ajakan, atau potongan video orasi di grup obrolan pada dasarnya hanyalah pengeras suara di permukaan. Kekuatan yang sesungguhnya bukan diukur dari seberapa ramai jempol kita mengetik di layar ponsel, melainkan dari seberapa dalam pemikiran dan rasa peduli berhasil menular ke dalam hati setiap orang. Mengapa dulu satu pesan singkat bisa menggerakkan ribuan orang?

Jawabannya sederhana, karena pesan itu dikirim kepada orang-orang yang ikatan batin dan pemahamannya sudah terbangun lewat kerja gerilya. Mereka bergerak bukan semata-mata karena disuruh lewat pesan digital, melainkan karena sudah mengerti duduk perkaranya melalui obrolan tatap muka dari hati ke hati di warung kopi, sudut tempat kerja, maupun ruang tamu kawan sendiri.

Ketika pemahaman di tingkat bawah mulai luntur, kita sering kali mengambil jalan pintas dan berharap ratusan pesan di layar ponsel bisa menggerakkan orang secara ajaib. Padahal, membangun kekuatan bersama selalu menuntut tahapan yang tertib dan nyata.

Pertemuan langsung adalah cara paling jujur untuk mengetahui kabar dan kenyataan yang sesungguhnya, sekaligus menyaring kabar bohong yang sering membuat panik di grup obrolan.

Ketika duduk bersama, kita bisa melihat langsung kesiapan kawan dan mengukur keadaan dengan kepala dingin. Dari kabar nyata itulah ruang diskusi dibuka, bukan untuk pamer kepintaran berbicara atau adu gengsi, melainkan untuk menyatukan pikiran dan menyusun rencana kerja yang matang.

Namun, rencana sehebat apa pun akan sia-sia jika hanya berhenti di meja obrolan. Semua siasat itu harus berani diuji lewat tindakan nyata di lapangan, karena kenyataan hidup tidak pernah berubah hanya dengan kata-kata di dunia maya.

Pelajaran paling jujur dan membuka mata dari pemikiran ini berbicara tentang kenyataan hidup, yaitu keseimbangan tidak lahir dari kata manis bernama sinergi, melainkan dari rasa takut dan perhitungan untung rugi yang nyata.

Dalam hubungan apa pun yang berat sebelah, ajakan untuk bersinergi atau menjaga suasana damai sering kali hanyalah alasan halus agar pihak yang lemah mau mengalah dan menurut begitu saja. Mengharapkan pihak yang kuat berbaik hati secara cuma-cuma adalah harapan yang keliru.

Pihak yang berkuasa baru akan bersikap adil dan menghargai kesepakatan ketika mereka merasa segan dan tahu bahwa pihak di hadapannya bersatu padu. Mereka akan berpikir dua kali jika melihat barisan di depannya kompak, paham aturan, dan sanggup mendatangkan risiko kerugian besar apabila hak-haknya diinjak-injak.

Karena itu, sudah saatnya kita berhenti merasa puas hanya dengan menjadi jagoan di media sosial. Jangan biarkan energi dan waktu kita habis hanya untuk berdebat di balik layar ponsel, sementara kawan di sebelah kita dibiarkan bingung tanpa teman bicara.

Kembalikan kebiasaan lama yang terbukti ampuh, yaitu turun langsung menemui orang-orang di dunia nyata, menghidupkan obrolan yang berisi, dan menanamkan pemahaman yang mendalam.

Pada akhirnya, keadilan, martabat, dan kesejahteraan tidak pernah ditentukan oleh banyaknya tumpukan notifikasi di grup WhatsApp, melainkan oleh langkah kaki yang serempak hadir dan berani membuktikannya dalam tindakan nyata.

Pos terkait