Bekasi, KPonline – Kepala Biro (Kabiro) Media Perjuangan (MP) Bekasi, Wiwik Aswanti, menegaskan pentingnya peran media dalam mengawal hak-hak pekerja.
Menurutnya, media harus terus dijadikan sarana utama agar suara buruh tetap digaungkan, karena perjuangan organisasi buruh tidak cukup hanya dilakukan melalui aksi massa, perundingan, dan advokasi. Perjuangan juga membutuhkan media sebagai sarana untuk menyampaikan aspirasi, menyebarluaskan informasi, serta membangun kesadaran dan solidaritas di kalangan pekerja.
Hal tersebut yang disampaikan Wiwik dalam Pendidikan Dasar Media yang diselenggarakan Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten/Kota Bekasi, Minggu (1/11/2026), di Gedung KC FSPMI Bekasi.
Menurut Wiwik dalam perjuangan organisasi, media memiliki peran strategis sebagai penghubung antara organisasi dengan anggota, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Melalui pemberitaan, berbagai persoalan yang dihadapi buruh dapat diketahui publik sehingga perjuangan mereka tidak berhenti pada lingkungan perusahaan saja.
“Media menjadi sarana untuk mendokumentasikan perjalanan organisasi, mengabarkan keberhasilan perjuangan, mengawal persoalan ketenagakerjaan, serta meluruskan informasi yang tidak sesuai dengan fakta,”katanya
Sehingga Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), keberadaan Media Perdjoeangan bukan sekadar sebagai penyampai berita, melainkan bagian dari kekuatan organisasi dalam membangun opini publik dan memperjuangkan kepentingan kaum buruh.
Karena itu, kader media dituntut memiliki kemampuan jurnalistik, kepekaan terhadap persoalan pekerja, serta keberanian dalam menyampaikan fakta. Namun, keberanian tersebut harus tetap disertai akurasi, etika, dan tanggung jawab dalam setiap pemberitaan.
“Perjuangan melalui media juga membutuhkan konsistensi. Informasi yang aktual, tulisan yang tajam, dan dokumentasi yang baik dapat menjadi rekam jejak perjuangan sekaligus sumber pengetahuan bagi generasi buruh berikutnya,” pungkasnya
Melalui pendidikan dasar media ini, para peserta diharapkan mampu menjadi kader yang tidak hanya aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi juga terampil merekam, menulis, dan menyebarluaskan perjuangan.
Sebab, perjuangan yang tidak diberitakan berisiko tidak diketahui, sedangkan perjuangan yang didokumentasikan dan disebarluaskan dapat menjadi sumber inspirasi, solidaritas, dan kekuatan bagi gerakan buruh.