Puisi : Malam di Bahodopi

Puisi : Malam di Bahodopi

Malam di Bahodapi

Malam turun perlahan di Bahodopi,
menyelimuti tanah yang tak pernah benar-benar tidur.
Lampu-lampu industri menyala,
seperti bintang yang jatuh ke bumi,
menemani langkah para pekerja
yang masih berjibaku dengan waktu.

Di kejauhan, suara mesin menggelegar,
memecah sunyi yang tak pernah sempurna.
Asap mengepul ke langit,
sementara keringat mengalir
menjadi saksi bahwa hidup
tak selalu berjalan dengan mudah.

Di antara deru kendaraan dan cahaya pabrik,
ada rindu yang diam-diam tumbuh.
Rindu pada rumah,
pada suara anak yang memanggil,
pada senyum istri,
pada secangkir kopi yang sederhana
namun terasa begitu mahal ketika jauh.

Bahodopi malam ini bukan sekadar tempat bekerja.
Ia adalah cerita tentang mereka
yang meninggalkan rumah demi masa depan,
menukar jarak dengan harapan,
menukar lelah dengan penghidupan,
dan menitipkan doa
pada malam yang panjang.

Wahai malam di Bahodopi,
sampaikan salam kepada mereka yang menunggu.
Katakan bahwa di sini
ada manusia-manusia yang sedang berjuang,
bukan hanya untuk hari ini,
tetapi untuk esok yang lebih baik.

Dan ketika fajar akhirnya datang,
biarkan cahaya pertama menyentuh wajah-wajah lelah itu.
Sebab di balik setiap peluh pekerja,
selalu ada harapan yang tak pernah padam
bahwa suatu hari nanti,
perjuangan ini akan menemukan maknanya.

(Yanto)