Persiapkan Dirimu, COVID-19 Ancam Dunia Hadapi Resesi

  • Whatsapp

Jakarta,KPonline – Pandemi virus Corona (Covid-19) yang makin meluas dan kemungkinan akan membuat dunia berada dalam resesi.

IMF menyebut dampak resesi akibat pandemi virus korona lebih buruk dibandingkan krisis keuangan global 2008 lalu. Pasalnya, dunia mengalami dua krisis sekaligus imbas penyebaran covid-19 tersebut.

Bacaan Lainnya

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan krisis kesehatan dan ekonomi belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah IMF. Negara di dunia bahkan harus menyelamatkan nyawa warganya sekaligus melindungi mata pencarian.

“Kita sekarang dalam resesi, jauh lebih buruk daripada krisis keuangan global,” kata Georgieva dikutip dari Antara.

Dirinya meminta kepada semua pemimpin di dunia untuk bersama-sama mengalahkan virus ini. Jika tidak dilakukan dengan kompak menurutnya negara manapun tak akan mampu keluar dari corona.”Kita seharusnya tidak jalan, dengan langkah-langkah kecil, padahal kita tahu ini krisis yang besar,” imbuhnya.

Kristalina menerangkan jika sebelumnya tidak pernah melihat ekonomi dunia dalam keadaan seperti ini. “Sekarang yang harus kita lakukan, bagaimana merevitalisasi itu, ini jadi topik penting lain,” jelasnnya.

Melihat kondisi ekonomi Indonesia saat ini, banyak pengamat ekonomi yang memprediksi bahwa Indonesia juga sedang mengarah pada resesi.

Indikator-indikator yang dijadikan sebagai dasar prediksi bahwa Indonesia telah mulai memasuki gerbang resesi ekonomi telah mulai bermunculan. Selain itu, tingkat daya beli masyarakat Indonesia saat ini juga menurun.

Hal ini berimbas pada banyaknya perusahaan retail yang mengambil keputusan untuk menutup sejumlah gerainya. Tutupnya gerai retail tersebut tidak bisa dinafikan bahwa daya beli masyarakat rendah sehingga kegiatan ekonomi menjadi lesu.

Lantas, apa yang dijadikan sebagai indikator kapan suatu negara memasuki masa resesi ekonomi?

Suatu negara dikatakan masuk masa resesi, apabila muncul beberapa indikator berikut.

Terjadi ketidakseimbangan antara produksi dengan konsumsi

Ekonomi tak jauh-jauh dari produksi dan konsumsi. Keseimbangan diantara keduanya menjadi dasar pertumbuhan ekonomi. Di saat produksi dan konsumsi tidak seimbang, maka akan terjadi masalah dalam siklus ekonomi.

Apabila tingginya produksi tidak diikuti dengan tingginya konsumsi, akan berakibat pada penumpukan stok persediaan barang. Sebaliknya, jika produksi rendah sedang konsumsi tinggi maka kebutuhan dalam negeri tidak akan mencukupi sehingga harus dilakukan impor. Hal ini akan berakibat pada penurunan laba perusahaan sehingga berpengaruh pada lemahnya pasar modal.

Pertumbuhan ekonomi lambat bahkan merosot selama dua kuartal terturut-turut

Dalam perekonomian global, pertumbuhan ekonomi digunakan sebagai ukuran untuk menentukan baik buruknya kondisi ekonomi suatu negara. Jika pertumbuhan ekonomi suatu mengalami kenaikan secara signifikan, artinya negara tersebut dalam kondisi ekonomi yang kuat.

Demikian pula sebaliknya. Nah, pertumbuhan ekonomi ini menggunakan acuan produk domestik bruto yang merupakan hasil penjumlahan dari konsumsi, pengeluaran pemerintah, investasi dan ekspor yang dikurangi impor. Jika produk domestik bruto mengalami penurunan dari tahun ke tahun, dapat dipastikan bahwa pertumbuhan ekonomi negara yang bersangkutan mengalami kelesuan atau resesi.

Nilai impor jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor

Dalam perdagangan internasional, kegiatan impor dan ekspor sangatlah wajar. Selain untuk menjalin kerja sama ekonomi, tujuan dari impor dan ekspor salah satunya adalah untuk memenuhi kebutuhan penduduk di kedua negara.

Negara yang kekurangan komoditas karena tidak bisa memproduksi sendiri, bisa mengimpor dari negara lain. Sebaliknya, negara yang memiliki kelebihan produksi bisa mengekspor ke negara yang membutuhkan komoditas tersebut. Namun, jika impor dengan ekspor tidak stabil bisa berdampak pada perekonomian negara. Nilai impor yang jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor berisiko pada defisit anggaran negara.

Terjadi inflasi atau deflasi yang tinggi

Untuk alasan dan kepentingan tertentu, inflasi memang diperlukan. Namun, inflasi yang terlalu tinggi justru mempersulit kondisi ekonomi, karena harga-harga komoditas melonjak sehingga tak bisa dijangkau oleh semua kalangan masyarakat, utamanya yang kelas ekonominya menengah ke bawah.

Kondisi ekonomi akan semakin parah apabila inflasi tidak diikuti dengan daya beli masyarakat yang tinggi. Tak hanya inflasi yang berdampak pada resesi, tetapi juga deflasi. Harga-harga komoditas yang menurun drastis bisa mempengaruhi tingkat pendapatan dan laba perusahaan yang rendah. Akibatnya, biaya produksi tidak tertutup sehingga volume produksi rendah.

Tingkat pengangguran tinggi

Tenaga kerja menjadi salah satu faktor produksi yang memiliki peranan penting dalam menggerakkan perekonomian. Jika suatu negara tidak mampu menciptakan lapangan kerja bagi tenaga kerja lokal, maka tingkat penggangguran di negara tersebut jelas akan tinggi. Risikonya, daya beli rendah bahkan memicu tindak kriminal guna memenuhi kebutuhan hidup.

Sekuat apapun perekonomian suatu negara, bisa jadi memiliki titik lemah. Ketika titik lemah tersebut terhantam, mau tidak mau atau siap tidak siap negara tersebut akan mengalami kelesuan dan kemerosotan yang disebut dengan resesi ekonomi.

Sebab itulah, penting bagi setiap negara memantau laju pertumbuhan ekonominya per kuartal, agar dapat segera diambil kebijakan ekonomi yang mampu mengantisipasi bahkan mengatasi jika ditemukan adanya masalah.

Tidak ada seorangpun yang mengharapkan terjadinya resesi ekonomi. Namun kita tetap harus mempersiapkan segala kemungkinan terburuk. Ketika situasi ekonomi sedang sulit, kemungkinan besar akan terjadi pemotongan jumlah karyawan di kantor.

Begitu pula dengan kita yang menjalankan bisnis sendiri. Kita bisa mengalami kebangkrutan atau kemerosotan pendapatan yang tajam.

Menemukan pekerjaan baru di tengah resesi akan sangat sulit, apalagi dengan nominal pendapatan yang sama. Di sinilah dana darurat akan sangat berguna bagi kita. Pada rentang waktu dimana Kita mencoba mencari pekerjaan baru atau membangun bisnis kembali hingga kondisi keuangan kembali stabil, Kita dapat membiayai hidup dengan dana darurat yang dikumpulkan.

Idealnya, besarnya dana darurat harus bisa mencukupi kebutuhan selama 3 sampai 6 bulan. Jika jumlah itu terlalu besar dan membebani, mulailah dari yang kecil. Setorkan sejumlah uang sesuai kemampuan secara rutin, lalu lakukanh analisis budget pada keuangan Kita untuk memangkas pengeluaran yang tidak perlu.

Bagi Kita para pekerja, jangan merasa terlalu nyaman dengan jabatan yang sekarang hanya karena kondisi perusahaan relatif stabil dan jumlah gaji yang fantastis. Persiapkan kemungkinan jika Kita dipecat suatu hari nanti.

Selain itu, bergabunglah di berbagai macam pelatihan dan sertifikasi yang berkaitan dengan bidang Kita atau hal lain yang menraik minat. Dengan segudang ketrampilan yang dimiliki, Kita akan terbantu menemukan pekerjaan baru.

Demikian pula jika Kita adalah pelaku usaha. Untuk mengatisipasi kebangkrutan, ada baiknya Kita mulai melakukan diversifikasi. Dengan demikian, jika satu jenis usaha gagal menghadapi resesi, maka Kita masih punya harapan di usaha Kita yang lainnya.

Sama seperti musim, perekonomian juga memiliki siklusnya sendiri. Meski perekonomian dunia telah mengalami pertumbuhan sejak resesi tahun 2009 lalu, bukan berarti resesi tidak akan datang lagi.

Pos terkait