Menulis Harus Terus Diasah, Agar Tajam dalam Pemberitaan

Menulis Harus Terus Diasah, Agar Tajam dalam Pemberitaan

Bekasi, KPonline – Menulis bukan sekadar merangkai kata menjadi kalimat, tetapi merupakan keterampilan yang harus terus diasah agar mampu menghasilkan pemberitaan yang tajam, akurat, dan mudah dipahami pembaca.

Pesan tersebut menjadi salah satu hal penting dalam Pendidikan Jurnalistik yang digelar Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten/Kota Bekasi pada Minggu (1/11/2026), di KC FSPMI Bekasi, Jalan Yapink Putra No. 11, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Dalam materi penulisan berita, Yanto yang akrab disapa Paman menekankan bahwa kemampuan menulis tidak bisa diperoleh hanya dengan memahami teori. Keterampilan tersebut harus dibangun melalui latihan yang konsisten, keberanian untuk mencoba, serta kesediaan menerima koreksi.

Menurutnya, semakin sering seseorang menulis, semakin terasah kemampuannya dalam menemukan sudut pandang, menyusun informasi, dan menyampaikan pesan secara efektif.

Bagi seorang jurnalis buruh, kemampuan tersebut menjadi penting karena setiap peristiwa memiliki nilai berita yang perlu digali. Tidak cukup hanya melaporkan apa yang terjadi, seorang penulis juga harus mampu menjelaskan siapa yang terlibat, kapan dan di mana peristiwa berlangsung, mengapa hal itu terjadi, serta bagaimana prosesnya.

“Pemahaman unsur 5W+1H menjadi fondasi dasar dalam menyusun berita yang lengkap dan informatif,” kata Yanto

Dia juga mengingatkan peserta agar tidak takut melakukan kesalahan dalam proses belajar menulis. Koreksi dan revisi bukanlah hambatan, melainkan bagian dari proses untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik.

“Jangan takut dikoreksi karena tulisan yang baik lahir dari sebuah revisi,” tegasnya.

Ia mendorong para peserta untuk membiasakan diri menulis setiap kali ada peristiwa atau kegiatan organisasi yang memiliki nilai berita. Dengan terus berlatih, kader diharapkan semakin peka melihat persoalan, mampu menentukan sudut pandang pemberitaan, serta menyampaikan informasi secara tajam tanpa mengabaikan fakta.

Bagi Media Perdjoeangan, kemampuan menulis merupakan salah satu modal penting dalam perjuangan organisasi. Melalui tulisan, persoalan di tempat kerja, perjuangan hak-hak pekerja, hingga berbagai dinamika hubungan industrial dapat diketahui oleh masyarakat luas.

Oleh karena itu, kader tidak cukup hanya mengikuti pendidikan jurnalistik, tetapi juga harus mempraktikkan ilmu yang diperoleh secara berkelanjutan.

“Menulis adalah keterampilan yang tumbuh melalui latihan. Semakin sering diasah, semakin tajam pula kemampuan seorang penulis dalam mengungkap fakta, menentukan sudut pandang, dan menyuarakan perjuangan kaum buruh.” pungkasnya