Jangan Takut Dikoreksi, Tulisan yang Baik Lahir dari Revisi

Jangan Takut Dikoreksi, Tulisan yang Baik Lahir dari Revisi

Bekasi, KPonline – Perjuangan buruh tidak cukup hanya dilakukan melalui aksi massa dan perundingan. Perjuangan juga harus direkam, ditulis, dan disebarluaskan agar suara pekerja didengar masyarakat luas.

Berangkat dari kesadaran tersebut, Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten/Kota Bekasi menggelar Pendidikan Jurnalistik pada Minggu (1/11/2026), bertempat di KC FSPMI Bekasi, Jalan Yapink Putra No. 11, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

Kegiatan ini diikuti 51 anggota Serikat Pekerja Anggota (SPA) FSPMI dari Kabupaten/Kota Bekasi dan Karawang. Pendidikan ini menjadi langkah nyata untuk mencetak kader yang mampu mengembangkan media organisasi sekaligus menyampaikan informasi perjuangan buruh secara akurat, menarik, dan bertanggung jawab.

Materi penulisan berita disampaikan oleh Yanto, yang akrab disapa Paman. Dalam pemaparannya, ia menekankan pentingnya memahami dasar-dasar jurnalistik, khususnya unsur 5W+1H, yakni What (apa), Who (siapa), When (kapan), Where (di mana), Why (mengapa), dan How (bagaimana).

Menurutnya, penguasaan unsur 5W+1H menjadi fondasi penting agar sebuah berita memiliki informasi yang lengkap, jelas, dan mudah dipahami pembaca.

Selain memahami unsur berita, peserta juga didorong untuk berani memulai menulis dan tidak mudah menyerah ketika mendapatkan masukan atau koreksi. Proses penyuntingan merupakan bagian penting dalam menghasilkan tulisan yang berkualitas.

“Jangan takut dikoreksi karena tulisan yang baik lahir dari sebuah revisi,” tegas Yanto.

Melalui pendidikan ini, Media Perdjoeangan FSPMI Kabupaten/Kota Bekasi berharap semakin banyak kader yang memiliki kemampuan jurnalistik dan siap menjadi kontributor berita dari masing-masing PUK.

Dengan demikian berbagai persoalan di tempat kerja, dinamika organisasi, serta perjuangan kaum buruh dapat terdokumentasi dan tersampaikan kepada publik secara luas.

“Perjuangan yang ditulis dan disebarluaskan bukan sekedar menjadi catatan peristiwa, melainkan juga bagian dari upaya membangun kesadaran, memperkuat solidaritas, dan menjaga suara kaum buruh tetap terdengar,” pungkasnya