Ketua KC FSPMI Depok Keluhkan Lambannya Penanganan Pasien BPJS Kesehatan

  • Whatsapp
Kartu BPJS Kesehatan milik Reyza (24 bulan).
Kartu BPJS Kesehatan milik Reyza Abid Ardiklah (24 bulan).

Depok, KPonline – Kesedihan masih nampak dari raut muka orang tua Reyza Abid Ardillah. Bagaimana tidak? Nyawa buah hatinya tercinta yang baru berusia 23 bulan tidak tertolong, karena lamban mendapat penanganan dari rumah sakit.

Menyikapi meninggalnya bayi Reyza yang juga putra dari anggota PUK FSPMI PT. Xacti Indonesia, Ketua Konsulat Cabang FSPMI Depok Wido Pratikno menyesalkan kejadian ini. Menurutnya, ini membuktikan betapa buruknya pelayanan kesehatan yang hanya mengedepankan formalitas, bukan menyelamatkan nyawa pasien.

Bacaan Lainnya

Wido menuturkan hal ikhwal terjadinya peristiwa itu. Minggu (20/3/2016) pagi, Reyza kejang-kejang. Badannya panas. Karena itu, orang tuanya membawa ke RS Mitra Keluarga.

Menurut dokter, Reyza membutuhkan ruang ICU. Di RS Mitra Keluarga ada ruang ICU, tetapi, masalahnya, RS Mitra Keluarga tidak bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.

“Akhirnya saya berkomunikasi dengan Kepala Cabang BPJS Kesehatan Depok dan Kepala Bagian Pelayanan agar biaya ICU di Mitra Keluarga bisa ditanggung BPJS,” terang Wido. Menurutnya, RS Mitra Keluarga minta jaminan 13,5 juta.

Karena pihak BPJS Kesehatan tidak bisa memenuhi permintaan itu, akhirnya keluarga mencari ICU ke seluruh rumah sakit yang ada di Depok. Sentra Medika, Hermina, dan rumah sakit lain yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan didatangi. Tetapi semua penuh.

Akhirnya, mendapat ICU di RS Marinir Cilandak. Tetapi di RS Marinir Cilandak, ada alat yang tidak tersedi. Karena itu, bayi Reyza dirujuk ke RS Fatmawati, Jakarta Selatan.

Wido menambahkan, “Sesampai di RS Fatmawati harus antri, karena penuh.”

Bayi Reyza hanya dirawat di UGD.

“Karena tidak segera mendapatkan ruang ICU, Ananda Reyza Abid Ardillah usia 23 bulan menghembuskan nafas terakhirnya jam 3 sore,” ujar Wido.

Menurut Wido, seandainya BPJS Kesehatan bersedia menanggung biaya ICU di RS Mitra Keluarga, Reyza bisa cepat tertangani. Upah buruh jelas tidak akan mampu jika harus menanggung biaya ICU. Karena itu, penting bagi BPJS Kesehatan wajib bekerjasama dengan seluruh rumah sakit. Apalagi, kepesertaannya juga wajib bagi seluruh rakyat Indonesia.

“Rumah sakit bukan hanya untuk orang kaya yang sanggup membayar,” tegasnya. (*)

Pos terkait