Denny Siregar Buka Aib Dirinya Sendiri

  • Whatsapp

Jakarta, KPonline – Dalam tulisan berjudul ‘Para Penjual Massa’ yang diterbitkan di blog pribadinya, Denny Siregar menulis perihal kecurangan yang dilakukannya. Begini. “Saya pun ikut tergelak karena ingat pada zaman masih suka menggelar Event Organizer, saya harus ambil angle yang bagus untuk sesi foto supaya bisa melapor ke klien bahwa acara ini sukses mengundang massa. Kuncinya ada di angle, sudut pengambilan foto yang benar…

Jika ternyata apa yang nampak di foto tidak sesuai dengan kenyataan, berarti Denny tidak lebih dari seorang penipu. Dia mengelabuhi klien-nya dengan foto-foto yang diambil dari angle yang bagus itu. Ini jelas bukan tindakan bermartabat. Sekali menipu, seorang penipu akan melakukannya kembali untuk kali kedua, ketiga, dan selanjutnya. Entah sudah berapa banyak klien yang ditipu Denny.

Bacaan Lainnya

Ironisnya. Sudahlah menipu, Denny menganggap semua orang kelakuannya sama dengan dirinya. Itu tidak saja naif. Tetapi, juga, seperti orang yang sedang mengalami sakit jiwa.

Denny mengatakan, foto-foto demo buruh  diambil dari sudut yang bagus dan tawarkan kepada partai politik atau pengusaha yang berkepentingan bahwa mereka punya massa.

Siapa yang untung? Ya, EO-nya. Apalagi kalau masuk media massa, bisa tambah besar penghasilannya. Buruh mah cuman dibayar nasi bungkus diselipin uang antara 50-100 ribu rupiah,” tulis Denny.

Sudahlah penipu, ternyata Denny tukang fitnah. Saya ikut demo, tetapi saya tidak dapat nasi bungkus. Apalagi didalamnya diselipin uang antara 50-100 ribu. Demo buruh tolak tax amnesty tanggal 29 September kemarin, di Jakarta diikuti lebih dari 10 ribu orang untuk DKI Jakarta, dan buruh juga bergerak serentak di beberapa provinsi dengan jumlah massa mencapai puluhan ribu orang. Tanyakan kepada mereka yang ikut aksi. Adakah nasi bungkus dan uang yang dibagikan?

Buruh punya penghasilan. Mereka melakukan demo bukan karena bayaran. Justru mereka membiayai dirinya sendiri atas aktivitas ini. Tentu orang macam Denny akan terheran-heran. Kok ada ya orang seperti buruh-buruh ini? Tentu saja ada. Karena tidak semua orang memiliki mental bejat sebagai penjilat. Pencari receh dari sebuah demonstrasi, yang sejatinya adalah hak rakyat untuk menyampaikan aspirasi dan dijamin konstitusi.\

Bisa jadi demo bayaran adalah pengalaman Denny. Dia menganggap semua orang kelakuannya sama dengan dirinya. Ikut demo hanya karena dibayar. Jika itu benar, betapa rendahnya moralitas sosok yang satu ini.

Satu hal yang pasti, tulisan Denny justru semakin menyadarkan kaum buruh, bahwa pilihan perjuangan yang diambilnya benar. Lihatlah diluar sana. Setidak-tidanya, berdasarkan tulisan Denny, orang-orang bersedia ikut demo hanya karena dikasih nasi bungkus yang didalamnya diselipin uang antara 50-100 ribu. Sedangkan yang selama ini kita lakukan justru bertolak belakang.

Demo kalian bukan demo bayaran.

Ketika buruh harus melakukan aksi demo sebagai bentuk kontrol sosial atas kebijakan yang dianggap salah, mereka membiayai aksinya sendiri. Itulah fungsi iuran dalam serikat pekerja. Untuk menghidupi organisasi. Untuk bergerak diatas kakinya sendiri, dan bukan menjadi kacung bagi orang lain.

Sampai disini saya baru mengerti, mengapa demo buruh begitu menakutkan dan banyak mendapat sorotan. Karena, memang, mereka murni menyuarakan aspirasi. Demo-demo yang dilakukan bukan karena pesanan. (*)

Fotografer: Eddo Dos’Santoz

Pos terkait