Caleg Dhuafa dan Militansi Bodong

Caleg Dhuafa dan Militansi Bodong

Bogor, KPonline – Seberapa antusiasnya kamu menyambut pemilihan anggota legislatif pada April 2019 yang akan datang? Dalam skala penilaian antara 1 hingga 9, antara yakin dan tidak, setinggi-tingginya, paling kamu hanya akan memberikan nilai 6. Itupun terpaksa. Tidak ikhlas. Miris. Tapi situasi dan kondisinya memang seperti itu. Antusiasme publik terhadap Pemilu semakin menurun, bahkan partisipasi masyarakat dalam pencoblosan semakin berkurang. Tidak percaya? Kamu tanya saja lembaga-lembaga survey bayaran itu!

Dalam kontestasi politik borjuasi pada April 2019 nanti, sebagian kaum buruh dengan gegap gempita menyambut momentum “menghambur-hamburkan kas Negara” periodik 5 tahunan ini. Saking antusiasnya, ada Tim Sukses yang rela keliling kampung, mempromosikan kandidat sekaligus “jagoan” mereka. Bahkan, ada juga Tim Pemenangan yang dengan kesadarannya, dengan keikhlasannya, merogoh kocek mereka sendiri, dengan harapan, anggota legislatif yang mereka usung menjadi wakil sekaligus corong suara mereka di parlemen.

Sudah menjadi rahasia umum dan tidak perlu dijelaskan secara terperinci, bagaimana susah dan sulitnya kaum buruh merebut kesejahteraan. Dari sini saja sudah jelas, kalau kaum buruh itu golongan kaum kere, tidak punya uang. Sudah jelas begitu, kok berani-beraninya maju sebagai calon anggota legislatif? Salah. Jelas tidak.

Sulit sekali mencari kosa kata yang tepat buat golongan kaum buruh revolusioner dan visioner dalam pergerakan dan perjuangan kaum buruh itu sendiri. Tidak mungkin juga khan, mem-bully golongan sendiri? Tapi pada akhirnya, saya menemukan kosa kata yang menurut saya agak menjurus ke arah tepat : Caleg Dhuafa.

Kaum buruh masih termasuk kategori golongan yang cukup memprihatinkan dalam hal politik dan perpolitikan di negeri ini. Sindir menyindir, saling membully dan kadang mengarah ke persekusi verbal. Bahkan ada beberapa percakapan di media sosial, yang sebenarnya saling menghina antara buruh yang satu dengan yang lainnya. Dan lucunya, penghinaan itu dilakukan oleh kaum buruh itu sendiri. Miris. Ya memang miris.

Disaat para pengusaha hitam dan kroni-kroninya sedang menyusun rencana untuk menghadang kenaikan upah 2019 dengan PP 78/2015, kaum buruh justru malah asyik saling mempersekusi secara verbal. Menghina, bahkan merendahkan kaumnya sendiri. Disaat para korporat jahat sedang berdiskusi dan rapat dengan oknum-oknum pejabat, untuk terus melanggengkan outsourcing dan pemagangan, kaum buruh malah sibuk berdebat, memperebutkan pepesan kosong yang ternyata memang tidak ada isinya.

Semua sadar dan memahami, kalau kaum buruh tidak mempunyai gudang uang, mesin pencetak uang atau pohon yang daunnya uang. Kaum buruh ya miskin. Calon anggota legislatif yang berasal dari buruh, ya Caleg Dhuafa namanya. Tidak perlu marah-marah yang tidak jelas arahnya, atau misuh-misuh yang tak kunjung reda. Tapi yang harus kita lakukan sekarang adalah, bagaimana caranya agar calon-calon anggota legislatif yang berasal dari buruh bisa duduk di kursi parlemen. Itu saja.

Gotong royong. Kaum buruh akan menang, dan mampu mengantarkan calon-calon anggota legislatif yang berasal dari buruh dengan cara gotong royong. Bayangkan saja, jika ada 4 juta orang buruh formal yang ikut berserikat, dan semuanya menyumbangkan uang sebesar Rp. 100.000; setiap buruh. Maka akan terhimpun dana sebesar Rp. 400.000.000.000; , Pernah melihat uang dengan angka nol sebanyak itu? Saya belum pernah, dan saya yakin kamu juga belum pernah kan? Dengan uang sebanyak itu, kaum buruh bisa membiayai kurang lebih 400 orang buruh sebagai dana kampanye. Bayangkan jika ada 400 orang anggota legislatif di Senayan dan kesemuanya berasal dari kader-kader terbaik organisasi serikat pekerja atau serikat buruh.

Untuk melaksanakan itu semua dibutuhkan keberanian tingkat tinggi, kesadaran politik yang mendarah daging, dan kemauan kaum buruh agar bisa merubah keadaan dan kesejahteraan kaum buruh ke arah yang lebih baik lagi. Tanpa itu semua, keadaan kaum buruh tidak akan berubah secara signifikan. Dari tahun ke tahun akan terus menggelar parlemen jalanan, menitip nasib kepada golongan yang bukan kaum buruh. Demo dan demo yang tidak berkesudahan dan akan terus begitu berulang-ulang. Tanpa itu semua, militansi kamu hanyalah militansi bodong belaka.

Jangan hanya mengkritik tanpa mampu memberikan setetes solusi. Kita semua sudah tahu dan memahami, bahwa kader-kader terbaik organisasi serikat pekerja atau serikat buruh tidak memiliki uang sebagai dana kampanye mereka. Tapi setidaknya, para calon anggota legislatif yang berasal dari buruh masih mempunyai harapan, yaitu kita, kaum buruh itu sendiri. Saling membutuhkan dan saling menguatkan, bukan saling sikut dan menjatuhkan. Kenapa kita melakukan itu semua? Karena tujuan kita adalah sama, ingin sejahtera dan bukan ingin berkuasa.

Apakah jika kita sudah mempunyai wakil di legislatif, lalu kita sudahi parlemen jalanan kita? Jelas tidak! Mendudukan wakil kita di gedung-gedung parlemen hanyalah salah satu jalan. Parlemen Jalanan adalah ibu bagi kaum buruh, karena sejatinya kaum buruh, akan tetap terus menyuarakan suara kaum buruh di jalanan. Tapi tolong ya, jika nanti aksi di jalanan lagi, militansi bodong yang kamu punya, disimpan saja di kantong kresek berwarna hitam, lalu kamu masukan ke loker kerja kamu, dikunci lalu kuncinya kamu buang ke laut ketika kamu melewati Tol Suramadu yang ternyata tidak gratis. (RDW)

Facebook Comments

Comments are closed.