Buruh dalam Qurban

  • Whatsapp

Mojoagung, KPonline – Sebut saja namanya Paidi, seorang buruh outsourcing di sebuah perusahaan pembuatan panci di ujung timur Jawa.

Di setiap peringatan hari raya Qurban atau Idhul Adha, hati Paidi selalu dilanda gundah gulana tak karuan. Bukan karena ia tidak menjadi panitia Qurban atau sedang menunggu jatah pembagian daging Qurban di kamar kostan. Tetapi belum ditepati janjinya pada sang ibunda.

Berita Lainnya

Pada saat ibunya meninggalkannya untuk selama lamanya, dalam hati ia telah mengucap janji, sebuah nadzar. Suatu hari nanti di hari raya Idhul Adha, ia akan menyumbangkan seekor hewan Qurban atas nama ibunya yang tersayang.

Namun apalah daya, manusia hanya bisa berencana. Setelah 5 tahun semenjak ibunya meninggal, janjinya tersebut tak jua kunjung terwujudkan. Sebagai seorang anak, ia merasa gagal karena belum bisa berbakti.

Menjadi buruh kontrak yang sudah mengabdi lebih dari 6 tahun pada perusahaan. Jangankan kepastian bekerja, upah layak pun tidak pernah ia cicipi. Dengan upah yang masih dibawah upah minimum serta tidak jelasnya status kerjanya yang putus nyambung. Ia masih punya keberanian untuk terus berjuang menyisihkan sedikit uang untuk membeli hewan Qurban.

Sayangnya, lembar demi lembar yang telah ia tabung hampir 4 tahun, ambyar seiring kehidupannya yang terjepit diantara pandemi covid dan ekonomi yang sulit. Uang yang seharusnya bisa membeli seekor kambing Qurban, harus berakhir di warung sekedar membeli mie bungkusan untuk pengganjal nasibnya yang malang terjengkang.

Di kamar kosnya dibantaran kali. Setiap hari, ia hanya bisa memandangi bintang dan menghitung nyamuk yang mati dipersekusi. Sudah 4 bulan lalu kontrak kerjanya telah diakhiri dengan dalih efek pandemi. Disembelih tepat diurat nadi.

Dari membaca surat kabar bekas di warung sebelah, ia ketahui. Para petinggi negeri yang ia titipi nasib, sedang membahas aturan yang bisa mengkebiri kaum buruh seperti dirinya. Entah.. makhluk apa lagi Omnibuslaw ini.

Dini hari di tengah kegamangan dan iringan lantunan keagungan NYA. Ia baru memahami dan meyakini, dirinyalah sejatinya “Qurban” diantara Pandemi, resesi ekonomi dan setan regulasi. Tak terasa, peluh membanjiri pipi dan hatinya mengingat nadzarnya yang tinggal mimpi.

Saat pagi menjelang, takbir berkumandang. Dengan mantap ia langkahkan kaki memenuhi panggilan. Di dalam rumah NYA, Paidi berkata,

Tuhan, akulah binatang Qurban.
Ibu.. maafkan anakmu. Buruh yang menjadi Qurban.

Ditulis oleh : Wedus Gibas anti Corona

Pos terkait