Mojokerto, KPonline-Guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan, Bidang 6 Pemberdayaan Perempuan Pimpinan Unit Kerja (PUK) Serikat Pekerja Automotif Mesin dan Komponen (SPAMK) Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) PT SAI menyelenggarakan acara diskusi kesehatan pada tanggal 25 Oktober 2026. Acara ini menghadirkan dokter spesialis penyakit dalam, dr. Alfa Ajinata AA, Sp.PD yang memberikan edukasi mendalam mengenai pengenalan dan pencegahan Diabetes Melitus.
Dalam pemaparannya, dr. Alfa menjelaskan bahwa Diabetes Melitus bukan hanya sekadar masalah kadar gula darah tinggi, melainkan gangguan metabolik yang berkaitan erat dengan cara kerja hormon insulin di dalam tubuh.
Ibarat sebuah bangunan, hormon insulin bertindak sebagai “kunci”, sementara reseptor insulin adalah “pintunya”. Pada kondisi normal, insulin membuka pintu sel melalui reseptornya agar glukosa dapat masuk dan diubah menjadi energi. Namun, pada kasus resistensi insulin, meskipun hormon insulin ada bahkan meningkat, reseptornya sulit terbuka sehingga glukosa menumpuk di dalam aliran darah.
dr. Alfa juga memaparkan faktor risiko diabetes yang terbagi menjadi dua kelompok:
1. Faktor yang tidak dapat dikendalikan yaitu riwayat diabetes dalam keluarga, usia, dan jenis kelamin.
2. Faktor yang dapat dikendalikan karena kegemukan (overweight/obesitas), tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, kebiasaan merokok, kurangnya aktivitas fisik (sedentary lifestyle), serta toleransi glukosa yang terganggu.
Masyarakat diimbau untuk mewaspadai gejala utama (klasik) diabetes, yang sering dikenal dengan istilah 3P:
1. Sering kencing (Poliuri)
2. Sering haus (Polidipsi)
3. Cepat lapar (Polifagia)
4. Penurunan berat badan secara cepat tanpa sebab yang jelas.
Selain itu, terdapat gejala tambahan seperti kesemutan, gatal di daerah kemaluan atau keputihan pada wanita, luka yang sulit sembuh, penglihatan kabur, cepat lelah, hingga impotensi pada pria. Jika tidak ditangani dengan baik, diabetes dapat memicu komplikasi jangka panjang yang serius, mulai dari penyakit jantung, stroke, kebutaan akibat kerusakan pembuluh darah retina, gagal ginjal, hingga luka di kaki yang berujung pada amputasi.
Dalam sesi edukasi gizi, dr. Alfa mengingatkan pentingnya mematuhi anjuran Kementerian Kesehatan RI terkait pembatasan konsumsi GGL (Gula, Garam, Lemak) per hari berdasarkan Permenkes Nomor 30 Tahun 2013:
– Gula (G4): Maksimal 10% dari total energi atau setara dengan 4 sendok makan (50 gram) per orang/hari.
– Garam (G1): Maksimal 1 sendok teh (5 gram) per orang/hari (2000 mg natrium).
– Lemak (L5):Maksimal 20-25% dari total energi atau setara dengan 5 sendok makan (67 gram) per orang/hari.
Beliau juga memberikan panduan bijak dalam memilih makanan berdasarkan frekuensi konsumsinya, serta mewaspadai camilan manis atau minuman kekinian tinggi gula yang dapat memicu lonjakan gula darah drastis (sugar crash).
Sebagai penutup, dr. Alfa menegaskan bahwa kunci hidup sehat dan bahagia tanpa komplikasi dapat dicapai melalui penerapan 4 Pilar Penatalaksanaan Diabetes:
1. Edukasi: Pahami penyakit diabetes dan cara mengelolanya dengan baik.
2. Olahraga Rutin: Lakukan aktivitas fisik atau olahraga minimal 30 menit per hari, yang dapat dikombinasikan dengan latihan otot ringan (seperti sit to stand, wall push-up, calf raise, dan mengangkat botol air mineral).
3. Pengaturan Pola Makan (Diet): Menerapkan konsep “Isi Piringku” dengan komposisi gizi seimbang, memperbanyak serat (sayur dan buah), membatasi karbohidrat berlebih, serta mencukupi kebutuhan protein dan air putih.
4. Intervensi Farmakologis: Minum obat atau menggunakan insulin secara teratur sesuai resep dokter, karena konsistensi adalah kunci hasil yang maksimal.
Dr. Alfa Ajinata AA, Sp.PD, menyampaikan pesan penting agar masyarakat, khususnya para pekerja dan keluarga, senantiasa menanamkan kesadaran preventif dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau mengingatkan kembali kutipan terkenal dari Bapak Kedokteran Yunani Kuno, Hippocrates: “Jadikanlah makanan sebagai obatmu, bukan obat sebagai makananmu”. Melalui pesan ini, dr. Alfa berharap para peserta tidak menunggu hingga jatuh sakit untuk mulai mengubah gaya hidup.
Dengan memahami tubuh, rutin beraktivitas fisik, menjaga pola makan sehat berpedoman pada gizi seimbang, serta melakukan deteksi dini kadar gula darah secara berkala, setiap individu dapat terhindar dari komplikasi berat. Harapannya, melalui edukasi yang tepat, seluruh peserta dapat mewujudkan kualitas hidup yang sehat, bugar, dan bahagia bersama keluarga tanpa dibayangi oleh ancaman Diabetes Melitus.