Surat Terbuka Untuk Om Yanto Wiryadi

  • Whatsapp
budi bodrek

Jakarta, KPonline – Jadi begini, om Yanto. Kemarin ada kawan yang memberitahu saya pernyataan panjenengan ini. Jadi saya mau jelasin, mengapa kok buruh itu demo terus-terusan.

Jujur saja, kadang saya suka heran sama orang-orang. Dikiranya buruh itu suka demo apa? Lha wong demo itu panas, lapar, ndak dapet nasi bungkus, ndak dapet uang jalan, kadang malah ancamannya di pecat ama perusahaan.

Kalo bisa ndak demo ya ndak bakal demo. Buat apa to gontok-gontokan sama orang. Nutup jalan, teriak teriak dan menuntut kesetaraan kesejahteraan. Buruh biar bodo ndak sekolah dan punya gelar sarjana ya bisa mikir.

Apakah hidup layak dan berpenghasilan baik cuma hak sarjana? Siapa yang menentukan itu? Mbok saya dikasih tau.

Schreenshot ini dikirimkan melalui pesan di Fanpage Suara FSPMI.
Schreenshot ini dikirimkan melalui pesan di Fanpage Suara FSPMI.

Untuk itu, om Yanto. Orang tua saya udah ngajarin saya untuk ndak mengandalkan diri kepada orang lain. Ndak ngemis belas kasihan dan ndak memohon apa yang sudah menjadi hak. Memperjuangkan hak wis jadi laku prihatin buruh sejak jaman kalabendu.

Menunggu pemerintah atau wong kuliahan bela buruh itu kaya nunggu ratu adil. Lama dan mungkin ra bakal terjadi.

Sedari dulu mogok ya kekuatan buruh satu-satunya. Berharap orang lain peduli sama buruh ya sama artinya menyerahkan leher untuk dipancung. Lagipula mogok itu halal jeh, lho piye? Wong urip kui kan ada timbal balik. Buruh lho yang membuat sugih para pengusaha itu, idealnya buruh juga diberikan kesejahteraan.

Dulu ada mbak Marsinah yang mesti mati mengenaskan demi upah dan hak cuti melahirkan. Nek misalnya mbak Marsinah dan mas Munir dulu tidak mengorganisir buruh mogok demo menuntut cuti hamil opo yo bakal dituruti? Opo yo bakal denmas karyawan atawa denmas mahasiswa, denok karyawati denok mahasiswi yang mau memperjuangkan hak kami? Yo ra mungkin.

Perjuangan buruh soko jaman mbah putri isih enom yo perjuangan menahan sabar. Lha piye? Nek ra di nyinyiri yo dibedil. Mati itu sudah jadi itung-itungan perjuangan kami.

Tentu ini ndak penting bagi kaum kelas menengah (ngapunten) ngehe. Apa pentingnya nyawa kami ketimbang hidup mereka. Ya tentu aja ndak ada.

“Sapa suruh jadi buruh,” lho kalo bisa milih jadi direktur ya saya pengen jadi direktur, mas Yanto.

Ada pula orang yang misuhi buruh “Kita capek-capek kuliah 5 tahun dapet gaji 3 juta, kok elu buruh ga sekolah minta dibayar sama,” lho emangnya harga hidup manusia diukur dari titel sekolah? Kalo sampean kuliah lima tahun saya udah kerja 10 tahun jadi buruh dan hidupnya ndak berubah. Opo yo tumon?

Ada yang bilang. “Itu kancamu demo naik Ninja yang mahal, gitu nuntut gaji gede. Iso tuku motor larang kok isih nuntut demo toh?”

Nek kelas menengah (ngapunten) ngehe boleh dan sah-sah saja ngredit gajet jutaan dengan ngutang padahal gajinya kecil, boleh ngredit mobil padahal ndak mampu, lho buruh kenapa ndak boleh punya barang bagus? Kok ra adil?

Sama-sama ga cukup gajinya, sama-sama ngotot gaya-gayaan, cuma bedanya buruh berani menuntut haknya. Nek kelas menengah (ngapunten) ngehe kan isone mung ngomyang wae koyo mbok dewor.

Lalu kamu akan bilang, aku karyawan. Pekerja kerah putih. Bukan buruh. “Aku ini profesional, aku ini karyawan multinational corporate! Jangan mbok padake sama babu dan buruh pabrik!”

Tapi kok saya ndak nemu perbedaannya jeh? Kami sama sama punya ndoro tuan, sama sama punya jam kerja, sama sama punya target dan sama sama punya deadline. Bedanya buruh sama orang kantoran yang wangi-wangi tur bajunya necis itu apa? Ngga ada.

Sebenarnya jadi buruh itu ndak sengsara banget, om Yanto. Kami punya serikat kerja yang membela hak kami. Nek ada kawan yang kesusahan dibantu, kami punya rasa solidaritas. Justru orang-orang krah putih itu sering susah. Katanya lembur terus, sikut sikutan sama temen sekantor, kalo target ga terpenuhi dimarahi sendiri, temennya ndak kompak. Buat apa gaji besar nek ra iso duwe konco? Weladalah opo yo mati arep ngubur dewe?

(Tulisan ini disarikan dari artikel Arman Dhani berjudul: Surat Terbuka Seorang Buruh Tentang Kelas Menengah Yang Budiman)