Secangkir Kopi Untuk Waitress

Batam, KPonline – Aku sudah sering melihat warung kopi ini. Selalu ramai oleh pembeli. Barangkali, ini adalah salah satu warung kopi paling enak yang ada di Batam. Aku penasaran.

Rasa penasaran untuk menikmati secangkir kopi di sana, membuatku menghentikan kendaraan, tepat di depan warung kopi itu.

Hampir semua kursi terisi penuh oleh pengunjung. Ada saja yang bisa dilakukan di warung kopi. Mulai dari menyendiri, mendiskusikan hal-hal tertentu, atau janji kencan dengan pacar — bahkan selingkuhan. Semua bisa dilakukan di warung kopi.

“Silakan mas, mau pesan apa?” Gadis muda dengan senyum manis mengembang di bibirnya. Gadis ini masih sangat muda, sepertinya ia baru tamat sekolah tahun ini.

“Saya pesan kopi aja ya.” Jawab saya sambil membalas senyum manisnya.

Bergegas, gadis itu menuju ke dapur untuk membuatkan pesanan.

Kemudian tidak berapa lama, ia sudah kembali dengan membawa secangkir kopi untuk dihidangkan.

Selesai menyeruput kopi, iseng aku bertanya. Memecah kekakuan. “Kok tidak pakai seragam, dek? Seperti rekan-rekan yang lain.”

Dia tersenyum kepadaku. Aku sudah membuktikannya, berkali-kali. Kecantikan perempuan akan bertambah beberapa derajat ketika dia tersenyum. Penjual kopi ini salah satunya.

“Seragamnya harus beli, mas. Saya baru kerja di sini. Sudah lebih dari satu bulan sih, tapi uangnya belum cukup.”

Tenggorokanku tercekat. Kaget dan tidak mampu berkata apa-apa. Hanya bisa memandanginya. Aku juga tidak mungkin tiba-tiba berkata, “Tenang saja, Dek. Biar Mas yang beliin untuk adek…”

Walaupun senyuman manis mengembang di depan mata, tapi senyuman ini belum mampu mengubah hatiku yang terenyuh mendengar kata-katanya. Aku masih belum mengerti, warung kopi yang seramai ini, majikannya begitu tega membebankan biaya seragam untuk karyawannya.

Di kota ini, banyak gadis seusinya belum mandiri. Masih suka meminta ke orang tua ketika ada sesuatu yang hendak dibeliknya. Tetapi dia sudah bekerja sendiri.

Gadis pemilik senyum manis itu sibuk melayani pengunjung lainnya. Saya baru sadar, senyum itu, bukan hanya untuk saya seseorang. Terlalu banyak pengunjung di warung kopi ini yang harus diberikan hadiah dengan seyuman.

Tetapi tak banyak yang tahu, di balik senyumnya itu, ada hati yang murung. Upah yang rendah, tidak sebanding dengan apa yang dilakukannya seharian penuh di warung kopi ini.

Ingin rasanya aku menghadiahi secangkir kopi untuk waitress. Jika selama ini dia yang menyediakan untuk mengunjung, biarlah sekarang aku yang berdiri di posisinya. Tetapi kemudian aku sadar, dia lebih lihai melakukan ini. Barangkali yang tidak dimilikinya adalah merebut hak, setelah ia melakukan kewajibannya.

Terkait dengan itu, sebagai anggota serikat pekerja, barangkali aku memiliki pengalaman lebih dibandingkan dengannya. Dan itulah tugasku…

Penulis: Nurul Azhar