Aku lulus dengan ijazah dalam genggaman,
Namun dunia kerja tak kunjung memberi jawaban.
Lamaran ku kirim hingga ratusan kali,
Balasannya hanya: “Kami akan hubungi kembali.”
Katanya harus punya pengalaman,
Padahal untuk pengalaman, harus diberi kesempatan.
Katanya wajib punya skill tingkat dewa,
Padahal untuk belajar itu butuh biaya.
Aku Gen Z, hidup di antara dua dunia,
Dunia nyata yang keras, dan dunia maya yang fana.
Pagi jadi admin, siang jadi kurir,
Malam menjelma jadi konten kreator, semua kuukir.
Tiada lagi masa kerja dua dekade di satu tempat,
Yang ada hanya kontrak yang cepat tamat.
Tiada lagi rasa aman dan kepastian di usia pensiun,
Yang ada hanya cemas dan tabungan yang lekas sirna.
Teman sebaya pamer gaji di LinkedIn,
Sementara aku masih menghitung ongkos bensin.
Namun aku tak malu dan, aku takkan menyerah,
Aku Gen Z yang terus menapak dan melangkah.
Arah memang belum tentu terbaca,
Tetapi langkah ini pantang membeku.
Jika pabrik-pabrik enggan memanggilku,
Akan kubangun jalanku sendiri.
Sebab kami bukan generasi yang hilang,
Kami adalah tunas yang sedang berjuang mencari terang.
Di tengah badai ekonomi dan dunia kerja yang tak menentu,
Kami akan tetap berdiri, menjadi nakhoda bagi bahtera waktu.
Kami Gen Z, kami tidak tersesat.
Kami hanya sedang mencari jalan yang tepat.