Sidoarjo, KPonline – Pada Jumat, 30 Oktober 2026 ini merupakan hari bersejarah bagi PUK SPLP FSPMI PT Pakarti Riken Indonesia (PARIN), tepatnya 25 tahun yang lalu adalah tonggak berdirinya Serikat Pekerja di perusahaan peleburan baja ini.
Sejarah telah mencatat bahwa para pendiri organisasi ini adalah para pekerja muda yang tergabung dalam Komunitas Pendaki Gunung bernama Nglokro yang hingga hari ini terus mengawal dari belakang layar, menjaga agar tidak mundur serta tetap berada di rel nya.
Akan tetapi PUK SPLP FSPMI PT PARIN tidak memperingati nya dengan acara seremonial, PUK merasa bahwa pada hari ini Indonesia tengah berduka akibat adanya Hutan yang dilalap si jago merah, kasus Karhutla (Kebakaran Hutan yang bisa juga dimaknai dengan Pembakaran Hutan).
Akibatnya ekosistem rusak, flora fauna mati bahkan bisa berujung punah, asapnya menimbulkan sakit saluran pernafasan bahkan hingga meninggal dunia, inilah yang melahirkan empati untuk tidak mengadakan momen perayaan HUT. FSPMI PARIN memilih memperingatinya dengan mengumpulkan donasi.
Proses penggalangan donasi ini dilakukan melalui Perwakilan PUK dimasing masing bagian serta memasang kotak donasi di beberapa titik strategis seperti di Kantin dan Area Gatepass keluar masuknya karyawan.
Dari penggalangan ini terkumpul donasi sebesar Rp 3.201.000 dan akan disalurkan melalui Relawan Kemanusiaan Zaskiya Adya Mecca (Ruang Kolaborasi Kemanusiaan).
Kepada Koran Perdjoeangan, Ketua PUK SPLP FSPMI PT PARIN, Narwoko SH menyampaikan rasa terima kasih kepada para anggota yang secara ikhlas menyisihkan rejekinya untuk masyarakat terdampak kebakaran hutan. Ini merupakan wujud semboyan “SOLIDARITAS TANPA BATAS” nya FSPMI, namun meski tidak ada perayaan, pengurus tengah mempersiapkan penerbitan Buku tentang perjalanan 25 tahun FSPMI PARIN.
Hari ini FSPMI PARIN menunjukkan bahwa momen peringatan HUT organisasi ternyata bisa diisi dengan kegiatan sosial yang berdasarkan kesadaran akan kondisi sekitar dan melakukan kegiatan yang bermanfaat untuk membantu sesama. (Khoirul Anam)