Buruh Go Berpolitik Bukan Mimpi

Buruh Go Berpolitik Bukan Mimpi

Jakarta, KPonline – Sebagaian Besar mungkin beranggapan tidak mungkin Buruh sanggup bertarung menjadi bacaleg di Pemilu legislatif 2019 karena biaya politik sangatlah besar.

Sejak 2014 strategi ‘Buruh Go Politic’ digaungkan oleh KSPI/FSPMI, bahkan secara kualitas dan kuantitas di tahun 2019 ini mengalami kemajuan, dibuktikan banyaknya kurang lebih 80 kader kader FSPMI di rekomendasi ke berbagai partai. Bahkan dukungan dari internal atau anggota semakin maju terjun ke dunia politik untuk mengawal para bacaleg dari agar buruh bisa duduk di legislatif membawa suara buruh di parlemen.

Kesulitan yang di hadapi bacaleg Dari puruh adalah  persoalan kebijakan partai dan besarnya biaya ongkos politik yang harus di tanggung masing masing bacaleg, belum lagi menghadapi gangguan struktur kader partai. Namun beruntung jika bacaleg buruh atau pimpinan Serikat mempunyai jaringan di elit pimpinan lingkaran partai akan sedikit mempermudah proses pencalegan.

Untuk buruh pemula memasuki Go Politik pasti terkejut untuk menjadi wakil rakyat menumpang kendaraan partai, berbekal surat rekomendasi atau dukungan Serikat Pekerja tidak mudah untuk mendapatkan nomor urut. Harus melalui persaingan bahkan loby loby ketat di pimpinan elit partai.

Untuk bacaleg buruh memasuki dunia politik partai pada awalnya pasti gugup berbekal surat rekomendasi yang ditujukan kepada pimpinan partai dan kemudian mengurus persyaratan  administrasi yang di tetapkan partai dan KPU.

Hilir mudik melengkapi administrasi dari RT, RW, Kelurahan, Dukcapil, Polsek, POLRES, legalisir ijasah, periksa Rumah Sakit, surat keterangan Pengadilan hingga surat keterangan terdaftar sebagai pemilih di KPU setempat.

Tahap berikutnya adalah pemberkasan bacaleg, setelah lengkap diserahkan ke partai kemudian  wawancara, lalu setelah itu yang paling penting adalah pimpinan atau jaringan bekerja berjuang memastikan dapat nomor Urut di daftar Daftar Calon Sementara (DCS)  yang di tandatangani ketua dan sekretaris partai untuk  di daftarkan di KPU setempat menjadi Daftar Calon Tetap (DCT).

Ternyata untuk menjadi wakil rakyat bagi kaum buruh di republik ini begitu sulit, terutama dikarenakan kaum buruh karena tidak mempunyai kendaraan politik atau partai sendiri dan sepertinya proses hingga terpilih seorang wakil rakyat di parlemen di tentukan oleh partai atau pemilik partai.

Pengalaman strategi Buruh Go Politik sangat berharga untuk menambah atau mewarnai sejarah perjuangan buruh Indonesia karena bacaleg dari kader terbaik KSPI/FSPMI jika kelak nanti terpilih menjadi parlemen akan menarik gerbong kaum buruh ke politik kekuasaan.

Sejatinya sebaik-baik pemimpin adalah orang yang lahir dari rahim gerakan yang sudah di tempa oleh proses perjuangan yang panjang, karena nurani dan tujuan untuk mengabdi dan membela kaum nya (tidak sebatas tema dalam spanduk maupun Iklan).

Pemimpin buruk dan keji lahir karena orang-orang yang cerdas dan baik diam dan tak mau berpolitik karena dalam demokrasi suara terbanyak adalah Pemenang.

Pemilu adalah proses perebutan kekuasaan secara  demokratis yang diatur oleh Undang undang Pemilihan Umum, hajatan yang di adakan 5 tahun sekali dalam rangka memilih wakil rakyat DPRD maupun DPR.

Seluruh kebijakan yang menyangkut kehidupan rakyat khususnya aum buruh mulai dari upah, jaminan sosial, perumahan, pendidikan, kesehatan yang pada intinya  dari persoalan lahir hingga kita menuju alam kubur adalah hasil keputusan politik  yaitu kekuasaan.

Jumlah kita kaum buruh banyak mengapa kita selalu kalah? Karena sudah terlalu lama kaum buruh disingkirkan dari pol itu. Sudah saatnya Buruh Berpolitik..!!

Penulis : Kardinal (Ketua PC SPAI FSPMI DKI Jakarta).

Facebook Comments

Comments are closed.