Bukan Sekadar Memotret, Kader Media Perdjoeangan Belajar Menangkap Makna Peristiwa

Bukan Sekadar Memotret, Kader Media Perdjoeangan Belajar Menangkap Makna Peristiwa

Bekasi, KPonline – Sebanyak 51 peserta dari perwakilan Pimpinan Unit Kerja (PUK) FSPMI di Kabupaten/Kota Bekasi dan Karawang mengikuti Pendidikan Dasar Media yang diselenggarakan Media Perdjoeangan FSPMI Bekasi, Minggu (1/11/2026), di Gedung Konsulat Cabang (KC) FSPMI Bekasi.

Kegiatan ini menjadi langkah awal untuk membekali kader dengan pengetahuan dan keterampilan jurnalistik agar mampu merekam, menulis, serta menyebarluaskan informasi mengenai perjuangan kaum buruh.

Sejak pembukaan hingga menjelang istirahat untuk salat dan makan siang, peserta mendapatkan berbagai wawasan mengenai dunia media. Salah satu materi awal yang disampaikan Yanto adalah cara menulis berita, sebagai bekal dasar bagi peserta untuk menyampaikan informasi secara sistematis, menarik, dan mudah dipahami pembaca.

Materi lainnya disampaikan oleh pengurus Media Perdjoeangan Bekasi, termasuk Rosa Hermawan atau yang akrab disapa Ocha, yang membawakan materi fotografi jurnalistik.

Sesi fotografi menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian peserta. Sebelum membahas lebih jauh tentang foto jurnalistik, Ocha terlebih dahulu memberikan pemahaman mengenai dasar-dasar fotografi, mulai dari pengenalan alat hingga fungsi penggunaannya.

Seiring perkembangan teknologi, kemampuan kamera pada smartphone semakin berkembang dan mampu menghasilkan gambar yang baik. Dalam konteks publikasi melalui media sosial maupun website, smartphone pun dapat menjadi alat pendukung kerja jurnalistik yang efektif.

Disisi lain menurut Ocha dalam penyampaian materinya, fotografi jurnalistik bukan sekadar menghasilkan gambar yang bagus. Foto harus mampu menyampaikan informasi, menggambarkan suasana, dan mewakili peristiwa yang ingin diberitakan.

Ocha pun memperkenalkan peserta dengan segitiga eksposur (exposure triangle) serta pentingnya komposisi dalam menghasilkan foto yang informatif dan memiliki nilai berita.

Untuk memperdalam pemahaman, Ocha mengajak peserta mengamati sejumlah foto yang dikirimkan oleh para peserta sendiri. Melalui contoh-contoh tersebut, peserta diajak memahami bagaimana sebuah foto dapat merekam fakta, memperkuat pemberitaan, dan menyampaikan pesan kepada publik.

Dari proses belajar tersebut, peserta mendapatkan pemahaman bahwa foto jurnalistik tidak hanya mengandalkan perangkat yang digunakan, tetapi juga membutuhkan kepekaan dalam melihat peristiwa, menentukan sudut pengambilan gambar, serta menangkap momen yang memiliki makna.

Menariknya, kegiatan pendidikan berlangsung di gedung yang bersebelahan langsung dengan jalur rel kereta api. Sesekali suara kereta yang melintas menimbulkan kebisingan dan mengganggu suasana ruangan.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak mengurangi keseriusan peserta dalam mengikuti setiap materi. Mereka tetap menyimak penjelasan pemateri dan menunjukkan antusiasme untuk memahami keterampilan baru.

Semakin dalam materi fotografi disampaikan, semakin banyak pula wawasan yang diperoleh peserta. Diskusi dan pengamatan terhadap hasil foto menjadi bagian dari proses belajar untuk membangun kepekaan visual yang dibutuhkan seorang kontributor media.

Pendidikan Dasar Media ini diharapkan menjadi titik awal lahirnya kontributor-kontributor baru yang mampu mengabarkan perjuangan buruh melalui tulisan dan foto yang berkualitas.

Sebab, perjuangan buruh tidak hanya berlangsung di ruang perundingan, di tempat kerja, atau di jalanan. Perjuangan juga harus direkam, ditulis, dan disebarluaskan agar suara buruh dapat didengar lebih luas oleh masyarakat.