Mojokerto, KPonline — Menghadapi dunia yang bergerak secepat kilat, kaum perempuan dituntut untuk semakin melek digital dan bermental tangguh. Pesan penting ini disampaikan oleh Beni Indah, Wakil Ketua Bidang 6 Pemberdayaan Perempuan PUK SPAMK FSPMI PT Surabaya Autocomp Indonesia, saat memberikan sambutan hangat dalam acara Digitalization Training di kantor konsulat cabang Mojokerto pada Sabtu, 19 September 2026.
Dalam sambutannya, ia mengajak para peserta untuk mengenali tantangan zaman modern yang kini telah bergeser dari era VUCA menuju era BANI. Kedua istilah ini sebenarnya adalah peta atau kerangka kerja untuk memahami betapa cepatnya perubahan zaman terjadi.
Jika dulu kita mengenal VUCA, kini dunia dinilai semakin kacau akibat dampak pascapandemi dan lonjakan teknologi kecerdasan buatan (AI), sehingga lahirlah istilah baru bernama BANI yang diciptakan oleh seorang futuris bernama Jamais Cascio.
Supaya lebih mudah dibayangkan, berikut adalah gambaran singkat mengenai situasi dunia di era BANI ;
– Brittle (Rapuh): Kondisi di mana suatu sistem kelihatannya kokoh dan baik-baik saja, tetapi bisa mendadak hancur begitu saja.
– Anxious (Cemas): Perasaan ragu-ragu dan cemas yang menghantui akibat ketidakpastian hidup yang tinggi.
– Nonlinear (Tidak linier): Situasi yang tidak seimbang; kadang masalah kecil yang dianggap sepele justru membawa dampak yang sangat besar.
Incomprehensible (Tidak masuk akal): Keadaan di mana informasi melimpah ruah di mana-mana, tapi justru membuat kita semakin bingung dan sulit memahaminya.
Beni Indah juga menjelaskan perbedaan paling mencolok antara gaya lama (VUCA) dan gaya baru (BANI). Kalau dulu di era VUCA kita hanya fokus melihat gejala luar seperti seberapa cepat dan rumitnya masalah, kini di era BANI kita harus jauh lebih peduli pada seberapa rapuhnya sistem serta bagaimana kesiapan mental manusianya.
Masalah di era VUCA mungkin masih bisa dihitung polanya, namun di era BANI hantaman masalah bisa datang secara tiba-tiba di luar akal sehat.
Melalui pelatihan digital ini, diharapkan para peserta tidak hanya mahir menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki mental yang kuat, fleksibel, dan siap beradaptasi di tengah situasi zaman yang penuh kejutan.
Acara yang inspiratif ini turut mempertegas komitmen Bidang 6 Pemberdayaan Perempuan PUK SPAMK FSPMI PT Surabaya Autocomp Indonesia dalam mengawal pemberdayaan anggotanya.
Berkat kekuatan solidaritas serikat, penguatan kapasitas digital dan mental tangguh ini menjadi bukti nyata bahwa organisasi tidak hanya memperjuangkan hak-hak pekerja di lingkungan pabrik, tetapi juga proaktif membekali pekerja agar siap menghadapi perubahan ekstrem zaman, cakap teknologi, dan semakin percaya diri menyongsong masa depan. (Infokom PUK SAI)