Bayangkan sebuah konser kecil di kafe pinggir jalan. Lampu temaram, kopi overpriced yang sudah dingin, dan seorang perempuan muda memetik gitar akustik sambil menutup mata, seolah-olah hidupnya adalah soundtrack film indie. Semua terhanyut. Lalu terdengar bunyi retak. Satu senar putus. Bukan karena dipetik brutal, tapi karena ditarik pelan-pelan, terus-menerus, sampai akhirnya menyerah juga. Seperti mental kita di akhir bulan.
Suara jadi fals. Nada tersendat. Tapi penonton tetap bertepuk tangan. Ada yang bilang, “Wah, soulful banget ya.” Padahal bukan soulful. Itu senarnya rusak. Tapi ya sudahlah, selama kelihatannya masih tampil baik, siapa peduli.
Selamat datang di dunia grooming.
Grooming itu bukan penculik pakai karung. Bukan juga penjahat berkumis sambil ketawa jahat. Grooming itu rapi, sopan, pakai kata-kata manis, rajin bilang “kamu beda”, dan selalu hadir pas korban lagi rapuh. Seperti notifikasi chat yang muncul tepat saat kamu lagi ngerasa sendirian.
Kisah Aurelie Moeremans dalam Broken Strings bukan cerita langka, bukan juga drama eksklusif artis. Ini cerita yang bisa terjadi di mana saja. Di rumah tetangga. Di grup WhatsApp. Di DM Instagram. Di tempat les. Di ruang yang katanya aman. Grooming tidak pilih korban berdasarkan IQ atau jumlah followers. Ia pilih yang sedang butuh perhatian. Dan kabar buruknya, remaja itu hampir selalu sedang butuh perhatian.
Remaja perempuan usia 13 sampai 17 tahun itu sedang berada di fase hidup di mana otak bagian logika masih loading, tapi perasaan sudah full HD. Mereka lapar pengakuan, haus validasi, dan ingin merasa penting. Jadi ketika ada orang dewasa yang bilang, “Aku doang yang ngerti kamu,” alarm seharusnya bunyi. Tapi sayangnya, alarm ini sering disetel ke mode senyap.
Pelaku grooming biasanya pakai jurus klasik yang entah kenapa masih efektif.
Langkah satu, bangun kepercayaan. “Kamu lebih dewasa dari teman-temanmu.”
Langkah dua, bikin korban merasa spesial. “Aku jarang lho ngobrol sedalam ini.”
Langkah tiga, kaburkan batasan. “Santai aja, ini bercanda.”
Langkah empat, rahasiakan semuanya. “Orang lain nggak akan ngerti.”
Langkah lima, normalisasi. “Ini wajar kok, kamu aja yang terlalu mikir.”
Langkah enam, eskalasi. Dari chat, ke foto, ke video, ke pertemuan, lalu tiba-tiba korban bingung kenapa hidupnya hancur tapi katanya ini cinta.
Dan ketika akhirnya senar itu putus, korban sering disambut bukan dengan empati, tapi dengan interogasi.
“Kok mau?”
“Kenapa nggak nolak?”
“Berarti kamu juga menikmati, dong?”
Luar biasa. Pelaku santai, korban disidang.
Padahal pertanyaan yang lebih masuk akal adalah:
Kenapa orang dewasa bisa segitu niatnya memanipulasi anak?
Kenapa lingkungan lebih sibuk jaga nama baik daripada jaga anak?
Dan kenapa kita baru ribut setelah senarnya putus, bukan saat ditarik pelan-pelan?
Pencegahan grooming itu bukan cuma soal bilang “jangan chat orang asing”. Dunia ini penuh orang asing yang sok kenal.
Keluarga harus jadi tempat aman buat cerita, bukan ruang sidang dadakan.
Sekolah perlu ngajarin hubungan sehat, bukan cuma larangan setengah halaman di buku PPKn.
Masyarakat perlu berhenti bilang “yang penting niatnya baik” setiap ada hubungan beda usia yang mencurigakan.
Negara perlu serius, bukan reaktif setelah viral.
Dan kita semua perlu berhenti alergi sama rasa curiga. Bertanya itu bukan menuduh. Diam justru sering jadi izin.
Ketika korban akhirnya berani bicara, tugas kita bukan jadi netizen maha tahu. Bukan juga polisi moral. Cukup jadi manusia.
Manusia yang mau dengar.
Manusia yang tidak menyuruh “ikhlasin aja”.


